Breaking News:

Ada 970 Kasus Sejak Awal Tahun, Jakarta Timur Duduki Peringkat 2 Kasus DBD di DKI

Jumlah tersebut membuat Jakarta Timur berada di posisi dua setelah Jakarta Barat dengan jumlah sebaran kasus DBD 269.

Tribunnews.com/net
Nyamuk demam berdarah 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mencatat 970 kasus demam berdarah dengue (DBD) (DBD) terjadi sejak awal tahun 2020 hingga 10 Maret lalu.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Indra Setiawan mengatakan 265 kasus DBD di antaranya tercatat di wilayah Jakarta Timur.

Jumlah tersebut membuat Jakarta Timur berada di posisi dua setelah Jakarta Barat dengan jumlah sebaran kasus DBD 269.

Jakarta Selatan juga tercatat 265 kasus, Jakarta Utara 103 kasus, Jakarta Pusat 62 kasus, dan Kepulauan Seribu dengan jumlah 6 kasus DBD.

Alasan Jakarta Timur berada di posisi dalam kasus DBD disebut Iwan karena banyaknya wilayah yang terdampak banjir awal tahun 2020 lalu.

"Jakarta Timur daerah terdampak banjir yang menyebabkan timbulnya tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD terutama, di luar ruangan yang sulit dijangkau," kata Iwan saat dikonfirmasi di Jakarta Timur, Jumat (13/3/2020).

Namun dia tak merinci jumlah kasus di 10 Kecamatan Jakarta Timur yang nyaris seluruhnya terdampak banjir selama bulan Januari-Februari.

Dia hanya menuturkan tumpukan sampah sisa banjir jadi sarang nyamuk Aedes Aegypti dan belum ada warga yang meninggal karena DBD.

"Barang bekas seperti botol bekas air mineral, dan lain-lain akan terisi oleh air hujan dan jadi tempat potensial perkembangbiakan nyamuk penular DBD," ujarnya.

Iwan mendasari pernyataannya pada hasil penelusuran yang dilakukan jajaran Sudin Kesehatan terhadap permukiman warga terjangkit DBD.

Yakni lebih dari 60 persen jentik nyamuk ditemukan di barang-barang yang berada di luar ruangan, di antaranya pot bunga, ban bekas, kaleng.

Sementara untuk pencegahan, Iwan menuturkan Puskesmas di setiap wilayah sudah melakukan pemetaan wilayah rawan dan sosialisasi.

"PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dilakukan dua kali dalam satu minggu, hari Selasa dan Jumat. Lalu lewat gerakan satu rumah satu Jumantik," tuturnya.

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved