Antisipasi Virus Corona di Depok

Nestapa Ojek Online di Depok Sekolah dan Kampus Diliburkan: Setengah Hari Baru Dapat Satu Orderan

Tak hanya sekolah, beberapa kampus di Kota Depok pun telah lebih dulu meliburkan mahasiswanya untuk sementara waktu.

TRIBUNJAKARTA.COM/DWI PUTRA KESUMA
Sejumlah ojek online tengah menunggu orderan di depan Shelter Stasiun Depok Lama, Pancoran Mas, Kota Depok, Senin (16/3/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS - Mulai hari ini seluruh murid sekolah baik negeri atau pun swasta diliburkan dari kegiatan belajar mengajar (KBM) hingga tanggal 28 Maret 2020 mendatang.

Kebijakan tersebut, tertuang di dalam surat edaran Wali Kota Depok Mohammad Idris nomor 443/132-Huk/Dinkes yang berisi tindak lanjut pencegahan penyebaran virus corona.

Tak hanya sekolah, beberapa kampus di Kota Depok pun telah lebih dulu meliburkan mahasiswanya untuk sementara waktu.

Meski sejumlah kalangan menyambut baik kebijakan tersebut, namun tidak bagi mereka yang mencari nafkah di jalanan setiap hari dan mengandalkan penghasilannya dari para murid sekolah dan mahasiswa.

Seperti pengemudi ojek daring, mereka mengeluhkan pendapatannya menurun drastis lantaran sepinya penumpang setelah kebijakan ini diterapkan.

Nurdin (47) salah seorang pengemudi ojek yang TribunJakarta.com jumpai di kawasan Stasiun Depok Lama, Pancoran Mas, Kota Depok, mengeluh dirinya hanya baru mendapat satu orderan dalam kurun waktu setengah hari.

"Parah mas, baru satu orderan dari pagi saya keluar. Ini sudah setengah hari padahal," kata Nurdin, Senin (16/3/2020).

Sebelum kebijakan ini diterapkan, Nurdin mengaku biasa ia sudah mendapat enam hingga delapan orderan dalam waktu setengah hari.

"Biasanya mah setengah hari sudah enam sampai delapan kali orderan. Lah ini cuma satu, itu juga orderan makanan," katanya.

Ihwal cicilan motor dan biaya dapur rumah tangganya pun menjadi masalah yang terus berkecamuk di pikiran Nurdin.

"Gimana mau bayar cicilan motor ini, ibaratnya buat dapur ngebul aja susah banget nyarinya," bebernya.

Saking sepinya penumpang, Nurdin mengatakan banyak rekan-rekannya yang ketiduran di basecamp tempatnya berkumpul.

Padahal, ketika siang hari sebelum kebijakan ini diterapkan basecamp tersebut selalu sepi lantaran ia dan teman-temannya sedang disibukkan mengantar penumpang.

"Biasanya jam segini mah lagi pada sibuk nganter orderan atau penumpang ya, sekarang mah cuma diam aja di basecamp. Malah sampe pada ketiduran itu," ujarnya.

Penulis: Dwi putra kesuma
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved