Breaking News:

Taman Jadi Lokasi Pemakaman Sementara Korban Corona karena Kamar Mayat Hampir Penuh

Kamar mayat hampir penuh oleh korban virus corona atau Covid-19, hal paling mungkin menjadikan taman untuk pemakaman.

Editor: Y Gustaman
Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Virus Corona 

Angkanya naik cepat dari 436 kasus menjadi 36 ribu hanya dalam dua pekan.

Menurut perkiraan dokter Patel, puncak infeksi virus di AS bisa terjadi dalam akhir pekan ini sampai pekan depan bulan April.

Di dalam tekanan ekstrem dua pekan terakhir ini, Patel telah menyiapkan kondisi terburuk.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Sebut Ada Seorang Ayah Meninggal Karena Covid-19, Sekeluarga Diisolasi

Meski begitu, dia mengatakan kalau kondisi itu tentu adalah sesuatu yang tidak diharapkan dan tidak ingin dilihat.

Kondisi terburuk yang dimaksud adalah situasi serupa dengan yang saat ini terjadi di Italia, di mana sistem kesehatan begitu kewalahan dan tak dapat lagi merawat semua pasien.

Dokter Patel juga mengatakan kalau tim medis harus cepat dalam melihat dan menilai dan menyusun rencana perawatan untuk setiap pasien.

Namun, dokter Patel juga mengaku bahwa tidak semua jumlah pasien infeksi virus corona bisa ditemui dalam sehari dan diberikan perawatan yang efektif.

Peralatan medis kurang

Selain terbatasnya tenaga medis, dokter Patel juga mengkhawatirkan adanya kemungkinan kekurangan peralatan terutama ventilator.

Gubernur New York, Andrew Cuomo dan Wali Kota New York City, Bill de Blasio bahkan mengatakan perlunya alat berat setiap hari.

Kondisi kekurangan ventilator menyebabkan tim medis harus memilih mana pasien yang lebih membutuhkan ventilator mana yang tidak.

Dokter Patel sendiri khawatir akan menularkan virus ke keluarganya.

Ayahnya sudah lansia berumur 80 tahun dan menderita Parkinson. Ada pun bibinya menderita kanker.

Dokter Patel tahu, jika dia menulari keluarganya, "Mereka tidak akan bisa selamat."

Di rumahnya, dia menjaga jarak minimal dua meter (enam kaki) dan menggunakan tisu anti-bakteri dengan banyak dan memastikan keluarganya yang sudah lansia itu memiliki cukup makanan.

Wabah virus corona di AS diperkirakan dokter Patel menjadi pertempuran panjang dan berlarut-larut.

"Jika sesuatu bisa mendorong jatuh wabah ini dan membuatnya turun dari puncaknya, maka kita bisa bertahan sejenak," ujar dokter Patel.

"Tapi semua orang telah turun tangan selama berbulan-bulan, hal itu merupakan sesuatu yang sulit dipertahankan," imbuh dia.

Satu WNI meninggal

Sementara itu KJRI New York mengungkapkan, lima warga negara Indonesia positif terjangkit Covid-19 di New York per Minggu (5/4/2020).

Menurut data KJRI New York, satu WNI di antaranya meninggal dunia.

“Berdasarkan laporan yang diterima oleh KJRI New York, terdapat lima kasus WNI yang berstatus positif Covid-19 dengan jumlah meninggal sebanyak satu orang,” ungkap KJRI New York melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (6/4/2020) malam.

Menurut KJRI, jumlah tersebut berdasarkan laporan yang diterima dari para WNI di kawasan New York.

Lebih lanjut, KJRI mengimbau para WNI agar melakukan tindakan pencegahan penyebaran virus corona.

“KJRI kembali mengimbau masyarakat Indonesia untuk terus memperhatikan dan mematuhi arahan otoritas setempat, menghindari kerumunan dan mempraktekkan physical distancing, serta selalu menjalani pola hidup yang sehat,” tulisnya.

Melansir data real time yang dikumpulkan oleh John Hopkins University, AS mencatatkan kasus sebanyak 337.072 pasien positif Covid-19 per Senin (6/4/2020) pagi.

Dari jumlah tersebut, ada 9.619 kasus kematian yang terjadi dengan 17.448 pasien telah dinyatakan sembuh.

Berita ini disarikan dari sejumlah artikel di Kompas.com dengan judul: Kamar Mayat Hampir Penuh, New York Akan Makamkan Jenazah Korban Covid-19 di Taman dan Wabah Virus Corona, Dokter di New York Bersiap Kondisi Terburuk dan Lima WNI di New York Positif Covid-19, Satu Orang Meninggal

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved