Virus Corona di Indonesia

Curhat Fadil, Penggali Kubur di TPU Padurenan: Orang Pada Takut Covid, Kita Malah Disamperin Covid

"Kan selama ini mendunia, masyarakat pada takut sama si Covid, tapi kita malah si Covid nyamperin kita nungguinkan. Sebenernya sama takut," ujar Fadil

Penulis: Siti Nawiroh | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Yusuf Bachtiar
Fadil Muhammad tukang gali kubur di TPU Padurenan Kota Bekasi. 

"Ambulan datang sopir yang bawa jenazah pakai pakaian APD langkap, anak-anak tukang gali juga udah siap pakai APD, tapi pas dibuka enggak ada petinya," ujar dia.

Mulai Besok Bisa Daftar Kartu Prakerja di Situs prakerja.go.id: Cek Syarat dan Pengajuannya

Dia sempat menghubungi pihak rumah sakit, kala itu jawaban dari rumah sakit adalah tidak tersedianya peti mati.

Yayan yang merasa punya tanggung jawab terhadap keselamatan petugas pemakaman langsung berinisiatif mencari peti mati untuk sang jenazah.

"Saya udah coba cari hubungi beberapa yayasan yang punya peti mati atau pembuatnya enggak ada, kosong sama sekali," ujarnya.

Jenazah ketujuh yang dimakamkan dengan protap Covid-19 itu menurut Yayan merupakan seorang dokter.

Dia meninggal dunia dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) tanpa diketahui jelas apakah positif terinfeksi corona atau tidak.

"Kita tidak tahu menahu, rumah sakit cuma bilang harus dimakamkan sesuai protap Covid-19, jenazahnya juga sudah dibungkus rapi tapi beda enggak ada peti matinya," ujar dia.

Sopir Taksi Online Meninggal Dunia di Parkiran Minimarket, Saksi: Kami Goyangin Nggak Bangun Juga

Pada saat pemakaman, keluarga dari sang pasien pun tidak ada sama sekali yang mengantar.

Yayan kala itu cukup dibuat pusing bagaimana cara memakamkan jenazah 'terduga Covid-19' itu, ia juga harus tetap memikirkan keselamatan para pegawai pemakaman.

"Keluarga enggak ada sama sekali, rumah sakit sudah menyerahkan sepenuhnya ke kita, saya langsung telfon anak buah saya (tukang gali kubur), makamkan bagaimana cara tapi tetap pikirkan keselamatan," paparnya.

Para petugas makam akhirnya mencari jalan terbaik, mereka yang dirundung ketakutan selama proses pemakaman pasien Covid-19 akhirnya memilih untuk menggotong jenazah menggunakan tambang dan bambu.

"Temen-temen akhirnya pakai bambu sama tambang, jenazah kita letakkan ke liang menggunakan itu tidak kita sentuh secara langsung, setelah sudah dimasukkan langsung kita kuburkan," ucapnya.

Setelah jenazah ketujuh itu, Yayan memastikan tidak ada lagi ditemukan pasien yang dimakamkan sesuai protap Covid-19 tanpa mengguna peti mati.

Menurut dia, peran keluarga amat sangat penting ketika dalam kondisi seperti ini. Kejadian yang dialami jenazah ketujuh tersebut disebabkan kurangnya perhatian keluarga atau ahli waris yang ditinggalkan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved