Kontroversi Nasi Bungkus

Polisi Periksa 10 Saksi Terkait Heboh 'Nasi Anjing'

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto mengatakan, saat ini sudah ada 10 orang saksi yang diperiksa

TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto saat memberikan keterangan di Kampung Muka, RW 04 Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Senin (27/4/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, PADEMANGAN - Polres Metro Jakarta Utara masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi terkait video viral pemberian makanan berlabel 'Nasi Anjing' kepada warga di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto mengatakan, saat ini sudah ada 10 orang saksi yang diperiksa.

"Kami sedang melakukan proses. Pada tahap penyelidikan terhadap saksi-saksi. Saat ini sudah 10 orang yang kami mintai keterangan," ucap Budhi di Kampung Muka, RW 04 Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Senin (27/4/2020) siang.

Saksi yang diperiksa ialah yayasan yang memberikan nasi berlabel 'Nasi Anjing' tersebut.

Selain itu, saksi lainnya yang turut serta dimintai keterangan ialah warga di sekitar Masjid Babah Alun, Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, sebagai penerima nasi.

"Tiga orang dari warga di sekitat daerah Masjid Babah Alun. Tujuh orang lainnya dari pengurus yayasan. Kami belum menyimpulkan, tapi kami terus melakukan proses," ucap Budhi.

Diberitakan sebelummya, viral di aplikasi pesan singkat sebuah video ibu-ibu memperlihatkan nasi bungkus kertas berlogo kepala anjing.

Di atas bungkus kertas itu tertulis: 'Nasi Anjing', Nasi Orang Kecil, Bersahabat dengan Nasi Kucing #Jakartatahanbanting.

Setelah viralnya video tersebut, warga RT 11 RW 12 Warakas bertemu dan mendengarkan klarifikasi dari Biantoro Setijo, pemilik sekaligus pendiri Yayasan Qahal selaku donatur 'Nasi Anjing' pada kemarin malam.

Dalam kesempatan tersebut, Biantoro menjelaskan penamaan 'Nasi Anjing' yang distempel di bungkus makanan yang dibagikannya.

Dia menegaskan, penamaan 'Nasi Anjing' merujuk pada porsinya yang tidak jauh berbeda dengan 'Nasi Kucing' yang berporsi sedikit.

"Kami anggap nasi kucing kan udah terkenal. Nasi kucing kan porsinya sedikit, makanya kami jelaskan untuk 'Nasi Anjing' karena sedikit lebih banyak dari nasi kucing. Tapi tidak bisa membuat kenyang, hanya membuat bertahan hidup," kata Biantoro di Mapolres Metro Jakarta Utara, Minggu (26/4/2020).

Dia juga menegaskan bahwa makanan yang dibagikanya dibuat menggunakan bahan-bahan yang halal seperti tempe oreg, cumi, sosis, maupun telur.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved