Kontroversi Nasi Bungkus

Kapolres Metro Jakarta Utara: Hasil Laboratorium Balai POM, Kandungan 'Nasi Anjing' 100 Persen Halal

Dari hasil pemeriksaan, dipastikan tidak ada kandungan bahan makanan yang haram dalam 'Nasi Anjing'.

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/GERALD LEONARDO AGUSTINO
Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto saat memberikan keterangan di Mapolres Metro Jakarta Utara, Jumat (8/5/2020). 

Dia menegaskan, penamaan 'Nasi Anjing' merujuk pada porsinya yang tidak jauh berbeda dengan 'Nasi Kucing' yang berporsi sedikit.

"Kami anggap nasi kucing kan udah terkenal. Nasi kucing kan porsinya sedikit, makanya kami jelaskan untuk 'Nasi Anjing' karena sedikit lebih banyak dari nasi kucing. Tapi tidak bisa membuat kenyang, hanya membuat bertahan hidup," kata Biantoro di Mapolres Metro Jakarta Utara, Minggu (26/4/2020).

Dia juga menegaskan bahwa makanan yang dibagikanya dibuat menggunakan bahan-bahan yang halal seperti tempe oreg, cumi, sosis, maupun telur.

Sementara itu, Ketua RT 11 RW 12 Warakas, Ayun menyambut baik klarifikasi dari pihak donatur.

Ia pun meminta maaf atas adanya kesalahpahaman ini hingga membuat heboh di masyarakat.

Asal muasal nasi anjing

Biantoro Setijo, pemilik sekaligus pendiri Yayasan Qahal menjelaskan alasannya menamakan "Nasi Anjing" untuk makanan yang dibagikan kepada warga Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Menurutnya pemberian nama "Nasi Anjing" itu mengacu pada makanan "Nasi Kucing" terkait porsi dalam makana tersebut.

"Kami anggap nasi kucing kan udah terkenal, nasi kucing kan porsinya sedikit makanya kami jelaskan untuk nasi anjing karena sedikit lebih banyak dari nasi kucing, tapi tidak bisa membuat kenyang hanya membuat bertahan hidup," kata Biantoro usai menggelar pertemuan dengan perwakilan warga Warakas di Mapolres Metro Jakarta Utara, Minggu (26/4/2020).

Selain itu, Biantoro bermaksud memberikan nama "Nasi Anjing" sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat untuk sama-sama berjuang selama pandemi Covid-19 ini.

"Motto kami adalah Jakarta harus tahan banting, enggak boleh kalah sama virus corona," kata Biantoro.

Lebih lanjut ia memastikan bahwa "Nasi Anjing" buatannya menggunakan bahan-bahan yang halal.

Adapun isi dari porsi tersebut yakni nasi, telur, tempe oreg dan cumi.

Kendati demikian, akibat aksinya menamakan "Nasi Anjing" menjadi kontroversi, Biantoro pun meminta maaf.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved