Kontroversi Nasi Bungkus

Kapolres Metro Jakarta Utara: Hasil Laboratorium Balai POM, Kandungan 'Nasi Anjing' 100 Persen Halal

Dari hasil pemeriksaan, dipastikan tidak ada kandungan bahan makanan yang haram dalam 'Nasi Anjing'.

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/GERALD LEONARDO AGUSTINO
Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Budhi Herdi Susianto saat memberikan keterangan di Mapolres Metro Jakarta Utara, Jumat (8/5/2020). 

Di atas bungkus kertas cokelat itu tertulis, 'Nasi Anjing, Nasi Orang Kecil, Bersahabat dengan Nasi Kucing #Jakartatahanbanting.

"Dengan adanya pertemuan ini kita juga udah saling memaafkan diantara kedua belah pihak. Hanya salah paham aja. Dari kita salah pahamnya ada stempel nasi anjingnya," kata Ayun.

Ganti nama jadi Nasi Semut

Pemberian bantuan nasi bungkus kepada warga RT 11 RW 12 Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mendadak viral dan menjadi perbincangan.

Pasalnya, di bungkus kertas nasi itu ada stempel tertulis, "Nasi Anjing Nasi Orang Kecil, Bersahabat dengan Nasi Kucing #Jakartatahanbanting" lengkap dengan logo kepala anjing.

Karenanya, warga yang mengira nasi bungkus tersebut adalah makanan anjing atau juga dibuat dari daging anjing langsung membuangnya.

Ada pula yang merekam kejadian saat ibu-ibu memperlihatkan nasi bungkus kertas cokelat berlogo kepala anjing dan menjadi viral.

"Saya dikasih nasi sama tiga orang. Nasi ini saya ambil namanya juga dikasih. Ini nasinya ada bacaannya nasi anjing," ucap si ibu di video yang beredar.

Lalu muncul suara seorang pria ikut menjelaskan nasi bungkus yang diperlihatkan sang ibu tadi.

"Buat orang yang enggak tahu dikasih nasi bungkua sangkanya sembako buat yang tidak mampu," ucap si pria.

Si pria yang tak menunjukkan wajahnya di video itu menyebut sesuai namanya nasi anjing lauknya daging anjing.

Sadar telah membuat kegaduhan, donatur nasi anjing, yakni Biantoro Setijo, pemilik sekaligus pendiri Yayasan Qahal menjelaskan alasannya menamakan 'Nasi Anjing'.

Hal itu merujuk dari porsi makanan tersebut yang tak terlalu banyak.

Ia membandingkannya dengan "Nasi Kucing" yang merupakan nasi dengan porsi sedikit.

Sedangkan untuk menu yang ada dalam nasi bungkus itu ia memastikan berasal dari bahan yang halal.

Adapun menunya diantaranya telur, cumi, sosis dan tempe.

Penjelasan itu disampaikan Biantoro kepada perwakilan warga RT 11 RW 12 Warakas di Mapolres Metro Jakarta Utara malam ini.

Biantoro juga menyampaikan permohonan maafnya lantaran apa yang dilakukannya justru membuat keresahan di masyarakat.

Malam ini, mereka memang sengaja dipertemukan oleh Polres Metro Jakarta Utara untuk meluruskan hal ini.

Usai pertemuan tersebut kedua belah pihak saling memaafkan atas kekeliruan yang terjadi.

"Sekali lagi terima kasih untuk Pak RT dan semua yang sudah mendengar, termasuk dari polisi membantu untuk kita menyelesaikan dengan musyawarah dan terima kasih sudah dimaafkan," kata Biantoro, Minggu (26/4/2020).

Biantoro pun berjanjinakan mengganti nama "Nasi Anjing" menjadi "Nasi Semut".

"Saya tadi minta izin mau ganti nama jadi nasi semut. Nasi anjing kita pikir karena anjing itu setia, tapi semut itu kan kerja keras karena motto kami adalah Jakarta harus tahan banting enggak boleh kalah sama virus corona," kata Biantoro.

Sebelumnya, Biantoro bermaksud memberikan nama 'Nasi Anjing' sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat untuk sama-sama berjuang selama pandemi Covid-19 ini.

"Tujuan kita cuma satu, bagaimana Indonesia masyarakatnya baik yang miskin enggak boleh kalah sama Covid-19. Kita voleh mengalami kesulitan tapi kita harus maju berjuang," kata Biantoro. (TribunJakarta.com/WartaKota)

Sebagian artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Fadli Zon: Menamakan Bantuan dengan Nasi Anjing,  Apakah ini Bercanda atau Sengaja?

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved