Antisipasi Virus Corona di Bekasi

Usulan Wali Kota Bekasi Soal Operasional KRL, Tambah Gerbong atau Disetop Total

, jika sisa pergerakan orang penumpang KRL ini tidak bisa ditekan atau jumlah dikurangi, pengelola kereta harus menambah jumlah gerbong.

TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR
Wali Kota Rahmat Effendi di Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi, Jumat, (8/5/2020). 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI TIMUR - Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menilai, peta penyebaran penularan Covid-19 di Kota Bekasi salah satunya melalui transportasi umum seperti misalnya Kereta Rel Listrik (KRL).

Hal ini terbukti dari hasil tes swab massal yang dilakukan Pemerintah Kota Bekasi di Stasiun Bekasi pada, Selasa, (5/5/2020) lalu.

Terdapat tiga orang penumpang KRL yang dipastikan positif Covid-19, mereka juga tergolong pada kategori orang tanpa gejala (OTG).

Rahmat mengatakan, pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejatinya membatasi aktivitas orang berpindah dari Kota Bekasi menuju kota lain atau Jakarta dalam hal ini penumpang KRL.

"PSBB inikan seharusnya orangnya yang batasi, tapi kalau orangnya enggak dibatasi ya keretanya diperbanyak," kata Rahmat.

Dia menjelaskan, saat ini penumpang KRL sejak PSBB berjalan sudah mengalami penurunan yang cukup drastis.

Tetapi, meski sudah mengalami penurunan penumpang, potensi penularan masih tetap terjadi dan cukup mengkhawatirkan.

Untuk itu lanjut dia, jika sisa pergerakan orang penumpang KRL ini tidak bisa ditekan atau jumlah dikurangi, pengelola kereta harus menambah jumlah gerbong.

Hal ini bertujuan agar tidak ada penumpukan penumpang baik di stasiun atau di dalam perjalanan KRL sehingga tetap saling jaga jarak.

"Karena orangnya masih gede kalau dari satu gerbong itu kemarin 30 orang mungkin bisa sekarang 20 orang," jelasnya.

"nggak ngimbanginnya gitu aja sebenernya, kan yang dijaga sebetulnya jarak, physical distancing, ini yang kadang kadang orang lupa, virus itu kan menyebar karena dari orang ke orang bukan barang ke orang," tegasnya.

Namun, opsi paling mutakhir yang selayaknya bisa dilakukan ialah menyetop secara penuh operasional KRL Jabodetabek.

"Itu alternatif lain (tambah gerbong kereta), kalau perlu sama dengan bupati atau walikota Bodebek minta itu distop," tegas dia.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved