Breaking News:

Tak Perlu Kenakan Tabir Surya dan Pelembab Saat di Rumah, Mitos atau Fakta?

Penyebaran virus corona yang semakin meluas menyebabkan kita untuk lebih lama berdiam diri di rumah.

Freepik
Ilustrasi Wanita Pakai Pelembab Wajah 
Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana 
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Penyebaran virus corona yang semakin meluas menyebabkan kita untuk lebih lama berdiam diri di rumah.
Namun ketika terus berada di rumah banyak orang merasa malas untuk mengenakan skincare, khususnya tabir surya.
Alih-alih hanya di rumah saja, rasanya sih kulit aman-aman saja karena tidak terpapar sinar matahari secara langsung. Benarkah demikian?
Pada dasarnya, seberapa banyak kita perlu mengenakan tabir surya kembali pada kondisi rumah masing-masing.
Begitu ungkapan Spesialis Kulit dan Kelamin dr Arini Astasari Widodo dalam sesi diskusi (Kulwab) bersama wartawan.
"Apakah sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah melalui ada jendela atau taman? misalnya saja kamar tidur tidak semua ada jendela. Kaca yang digunakan juga berbeda-beda. Ada kaca dengan filter UV, ada yang tidak," kata dia seperti yang dikutip TribunJakarta, Senin (11/5/2020).
Kebanyakan, sinar matahari dapat masuk ke dalam lingkungan rumah melalui jendela. Padahal, tidak semua jendela di rumah menggunakan kaca dengan filter yang dapat menyaring sinar UV.
Itulah mengapa kita tetap perlu menggunakan tabir surya sebagai pelindung kulit saat berada di rumah saja.
"SPF hanya merupakan gambaran proteksi terhadap UVB saja, sehingga SPF saja tidak dapat digunakan sebagai acuan, apalagi untuk pemakaian di dalam rumah," ujarnya.
Untuk diketahui, UVA dan UVB merupakan kedua jenis ultraviolet yang memiliki efek berbeda jika terpapar pada kulit.
Menurut dr Arini, paparan sinar UVA dapat memicu penuaan kulit dan pigmentasi kulit seperti kulit menggelap dan timbul flek pada wajah.
Sedangkan UVB merupakan sinar yang memicu sunburn seperti kulit merah akibat terbakar matahari dan berguna untuk pembentukan vitamin D.
Namun jika keduanya terpapar dalam dosis yang berlebihan, dalam kasus yang parah bisa menyebabkan kanker kulit lho.
Ia pun menganjurkan agar kita sebaiknya tak hanya mementingkan jumlah SPF saja ketika ingin menggunakan tabir surya. 
"SPF hanya gambaran proteksi terhadap UVB. Untuk mendapatkan proteksi juga terhadap UVA dan blue light, kita dapat menggunakan physical sunblock atau tabir surya fisik, yaitu yang biasanya dituliskan 'broad spectrum' yang dapat menangkal UVA dan UVB. Umumnya tabir surya jenis ini mengandung zinc oxide atau titanium dioxide," ungkapnya.
Pelembab
Selain tabir surya, penggunaan pelembab di dalam rumah juga jangan dilupakan yah, apalagi dalam kondisi berpuasa seperti sekarang ini.
Ketika berpuasa, kondisi kulit cenderung kering. Hal ini menyebabkan kita harus rutin mengenakan pelembab meskipun berada di rumah.
"Perlu diingat bahwa air dan minyak merupakan faktor yang penting untuk menjaga kelembaban kulit. Oleh karena itu jangan lupakan bahwa konsumsi air atau cairan yang cukup sangat penting untuk hidrasi kulit," kata dr Arini.
Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengenakan pelembab nih. Salah satunya adalah sesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan aktivitas ketika di rumah.
Misalnya, apabila aktivitas banyak menyebabkan berkeringat, sebaliknya, jangan memakai minyak atau pelembab berlebihan di daerah yang lembab dan banyak keringat seperti punggung, atau lipat payudara.
Dokter Arini menjelaskan, bahwa kelembaban tinggi dapat memicu jamur candida atau fungal acne pada punggung. Pakailah pelembab pada daerah yang kering seperti lengan dan tungkai.
"Karena aktivitas seseorang di rumah berbeda-beda. Ada ibu-ibu yang banyak nonton drama korea, ada yang sibuk olahraga outdoor, ada yang sibuk masak dan lainnya. Misalnya tiba-tiba dapur di rumah banyak yang menjadi usaha catering mendadak, karena efek PSBB dan ekonomi sulit, sehingga ada ibu-ibu yang tiap hari terpajan panas, lembab karena berkeringat. Ada juga anak-anak muda yang kegandrungan olahraga di rumah," katanya.
"Oleh karena itu nasehat perawatan kulit tidak bisa disamaratakan pada setiap orang. Begitu juga lingkungan tempat tinggal, ada yang rumah tropis tanpa AC, ada yang tinggal di apartemen full AC," pungkas dia.
Penulis: Pebby Ade Liana
Editor: Suharno
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved