Breaking News:

WWF Indonesia Ajak Masyarakat Berhenti Konsumsi Hiu

Situs ini digagas untuk mengajak publik, penyedia jasa pariwisata, dan pelaku industri hidangan laut agar menghentikan perdagangan dan konsumsi hiu.

Wikimedia Commons via Kompas
Hiu Putih 

TRIBUNJAKARTA.COM - WWF Indonesia meluncurkan sosharks.wwf.id sebagai situs kampanye Save Our Sharks (“#SOSharks”) pada Selasa (12/5/2020).

Situs ini digagas untuk mengajak publik, penyedia jasa pariwisata, dan pelaku industri hidangan laut agar menghentikan perdagangan dan konsumsi hiu.

Peluncuran situs dibarengi dengan penyelenggaraan diskusi daring bertajuk “Tren Hiu: Konsumsi atau Konservasi? Webinar yang dimoderasi oleh presenter sekaligus #SOSharks Champion Daniel Mananta ini menghadirkan narasumber Business Development Manager Bandar Djakarta Group Shandra Januar; Communication Manager WWF-Indonesia Dewi Satriani; serta model dan aktor juga Warrior WWF-Indonesia Kelly Tandiono.

#SOSharks, kampanye untuk mengajak masyarakat menghentikan perdagangan hiu di Indonesia baik di supermarket, penjualan daring, dan restoran serta menghentikan segala bentuk promosi kuliner hiu.

#SOSharks diinisiasi pertama kali pada tahun 2013 sebagai respon banyaknya produk dengan bahan baku hiu yang tidak diketahui asal usulnya, serta tingginya permintaan konsumsi sirip hiu di Jakarta yang mencapai 2 ton per tahun.

Melalui sosharks.wwf.id masyarakat dapat menunjukkan komitmennya dengan menandatangani pledge dan menjadi “Shark Buddies” yang terlibat langsung dalam upaya monitoring konsumsi hiu di Indonesia sekaligus mengetahui langsung pelaku usaha yang bebas dari bahan baku hiu.

AirAsia Terapkan Prosedur Perjalanan Nirkontak Terintegrasi


Direktur Kelautan dan Perikanan, WWF Indonesia, Dr. Imam Musthofa Zainudin menjelaskan, lebih dari 50% spesies hiu sudah masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature’s (IUCN) dan beberapa di antaranya masuk kategori terancam punah (critically endangered).

"Dengan tidak mengonsumsi hiu, maka kita memberikan ruang dan waktu pada hiu untuk pulih dan menjadi penyeimbang ekosistem laut, yang pada gilirannya membantu kelangsungan ketahanan pangan dari sektor perikanan kita," jelasnya. 

Sebagai predator teratas, hiu mengontrol populasi hewan laut dalam rantai makanan di alam.

Populasi hiu yang sehat dan beragam berperan penting untuk menyeimbangkan ekosistem laut, termasuk menjaga kelimpahan ikan-ikan bernilai ekonomi dan bernutrisi tinggi yang kita konsumsi. Laporan TRAFFIC (www.traffic.org) pada tahun 2019, Indonesia masih menjadi negara penangkap hiu terbesar di dunia (2007-2017).

Penangkapan besar-besaran ini diakibatkan oleh tingginya permintaan pasar terhadap produk hiu, sehingga menyebabkan terganggunya keseimbangan rantai makanan dalam ekosistem laut yang berdampak negatif bagi ketahanan pangan Indonesia sekarang dan di masa mendatang.

Nyamar Jadi Hansip, Baim Wong Bagi-bagi Uang ke Tukang Ojek & Borong Dagangan Tukang Sayur


Hingga saat ini gerakan global penurunan konsumsi hiu terus berjalan, salah satunya adalah sebanyak 18.000 jaringan hotel internasional tercatat telah menerapkan kebijakan untuk tidak lagi menyajikan makanan berbahan dasar hiu.

"Sebagai alternatif ekonomi, hiu yang tetap lestari di alam dapat dimanfaatkan sebagai atraksi pariwisata bahari yang bertanggung jawab, dengan pelibatan aktif masyarakat," aku Imam.

Editor: Kurniawati Hasjanah
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved