Antisipasi Virus Corona di DKI

Tim Medis Telusuri Riwayat Kontak 24 Tahanan Rutan Pondok Bambu yang Rapid Test-nya Reaktif

Penelusuran riwayat 24 tahanan dan 2 petugas Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur yang hasil rapid test-nya reaktif dilakukan tim medis.

Penulis: Bima Putra | Editor: Suharno
TRIBUNJAKARTA.COM/EGA ALFREDA
Warga Binaan Rutan Pondok Bambu saat mengikuti pelatihan kejuruan tata busana, Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (16/9/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, DUREN SAWIT - Penelusuran riwayat 24 tahanan dan 2 petugas Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur yang hasil rapid test-nya reaktif dilakukan tim medis.

Kepala Puskesmas Kecamatan Duren Sawit Rita Wedya Astuti mengatakan pihaknya bekerja sama dengan dokter Rutan Pondok Bambu.

"Untuk riwayat apa mereka pernah kontak langsung dengan pasien positif Covid-19 masih kita telusuri. Masih koordinasi dengan dokter Rutan," kata Rita saat dikonfirmasi, Kamis (14/5/2020).

Meski belum dinyatakan positif Covid-19 dari pemeriksaan swab, penelusuran ini wajib dilakukan guna memastikan riwayat pasien.

Keberlangsungan Hidup Ikan Peliharaannya Terancam, Dunia Air Tawar TMII Buka Donasi Sejak Seminggu

Dalam kasus pasien positif Covid-19 pun penelusuran dilakukan guna memastikan orang yang kontak langsung negatif atau justru positif.

"Untuk spesimen swab tahanan dan petugas Rutan Pondok Bambu yang reaktif Covid-19 sudah dikirim ke laboratorium Labkesda dan BBTKLPP," ujarnya.

Rita menuturkan hasil hasil uji spesimen diperkirakan makan waktu lebih dari 10 hari karena banyaknya antrean di kedua laboratorium tersebut.

Mengingat tak semua RS memiliki mesin real time polymerase chain reaction (RT-PCR) yang digunakan untuk menguji spesimen swab.

Kabag Humas dan Protokol Ditjen PAS Rika Aprianti menuturkan kondisi tahanan dan petugas yang hasil rapid test-nya reaktif tak menunjukkan gejala terjangkit Covid-19.

"Tidak ada gejala terjangkit Covid-19. Untuk memastikan positif Covid-19 harus dites PCR," tutur Rita.

Sebagai informasi, rapid test memang tak sepenuhnya akurat untuk mendeteksi seseorang terjangkit Covid-19 atau tidak.

Namun bukan berarti metode ini tak berguna mendeteksi Covid-19, RS rujukan yang menangani pasien Covid-19 pun masih menggunakan cara ini.

Rapid test melihat jumlah antibodi dalam tubuh, ketika seseorang terifeksi virus maka tubuh secara otomatis membentuk antibodi melawan virus.

Pemprov DKI Jakarta Segel 190 Perusahaan Karena Langgar Aturan PSBB

Agar hasilnya akurat dunia medis sepakat rapid test dilakukan dua kali, rapid test kedua berjarak 7-10 hari setelah tes pertama.

Tubuh butuh waktu membentuk antibodi, orang yang positif Covid-19 namun antibodinya belum terbentuk bisa jadi hasil rapid test-nya non reaktif.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved