Antisipasi Virus Corona di Depok

Alat Ventilator Penanganan Pasien Covid-19 Ciptaan Universitas Gunadarma Lulus Uji

Kabar baik penanganan Covid-19 datang dari Kota Depok, Jawa Barat. Tim dari Universitas Gunadarma berhasil mengembangkan alat ventilator.

TRIBUNJAKARTA.COM/DWI PUTRA KESUMA
Alat ventilator "Robovent" ciptaan Universitas Gunadarma, Beji, kota Depok, Jumat (22/5/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, BEJI – Kabar baik penanganan Covid-19 datang dari Kota Depok, Jawa Barat. Tim dari Universitas Gunadarma berhasil mengembangkan alat ventilator yang diberi nama “Robovent” untuk membantu penanganan pasien Covid-19.

Rektor Universitas Gunadarma, Margianti, Prof Margianti menuturkan, alat tersebut telah berhasil lulus uji Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan RI.

“Alat tersebut telah berhasil lulus uji BPFK Kementeian Kesehatan Republik Indonesia sebagai perangkat Resutitator Emergensi Ventilator pada tanggal 18 Mei 2020,” ujar Margianti di Kampus F8 Gunadarma, Beji, kota Depok, Jumat (22/5/2020).

Margianti menjelaskan, alat ini berfungsi untuk membantu pasien yang menderita gagal nafas akibat Covid-19 pada gejala klinis tahap II.

Sampah TPA Cipeucang Tangsel yang Longsor ke Sungai Cisadane Volumenya Mencapai 100 Ton

Ia juga berujar, pengembangan Robovent ini bekerja sama dengan PT. Sari Teknologi dan PT. Inti Inovasi Teknologi.

“Saat ini sedang dilakukan uji klinis oleh tim dari Kemenkes untuk memperoleh ijin produksi,” bebernya.

Sementara itu, Kepala BPFK Kementerian Kesehatan RI, Dokter Prastowo Nugroho menuturkan tim dari Rovent ciptaan Universitas Gunadarma telah lulus uji alat ukut yang dimiliki pihaknya.

“Di BPFK itu kami punya alat ukur, yang dimana alat ukurnya itu bisa meggukur semua parameter yang  akmi inginkan dan memacu pada standar internasional,” katanya di tempat yang sama.

Update Kasus Corona di Kota Depok Jumat 22 Mei 2020: ODP 3.662, PDP 1.375, Positif 481 Kasus

Pratowo juga membenarkan, bahwa Rovent ini tengah menjalani uji klinis di Kementerian Kesehatan.

“Kemarin disepakati uji klinis ini dilakukan terhadap manekin, karena memiliki risiko yang tinggi bila diuji langsung terhadap manusia. Bila uji klinisnya lulus maka bisa diproduksi massal,” pungkasnya.

Penulis: Dwi putra kesuma
Editor: Suharno
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved