Pemkot Bekasi Izinkan Salat Idulfitri Berjamaah, Tapi Imbau Warga Jangan Bersalaman

Wakil Walikota Bekasi, Tri Adhianto mengatakan, pemerintah kota Bekasi mengizinkan Salat Idulfitri pada Minggu, (24/5/2020) besok

Tribunnews.com/Irwan Rismawan
Sejumlah umat muslim menunaikan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1437 H di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (6/7/2016). Ratusan ribu jamaah melaksanakan Shalat Idul Fitri yang dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan dipimpin oleh Imam besar Masjid Istiqlal Nassarudin Umar. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN) 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Wakil Walikota Bekasi, Tri Adhianto mengatakan, pemerintah kota Bekasi mengizinkan Salat Idulfitri pada Minggu, (24/5/2020) besok di beberapa kecamatan di Bekasi.

Keputusan ini diperoleh setelah pihaknya melakukan komunikasi dengan LO Jawa Barat Kadiskominfo terkait klarifikasi zona merahnya kota Bekasi, dimana ada beberapa data yang tidak signifikan.

"Ada data yang kami klarifikasi, misalnya jumlah yang terkena positif Covid-19 sekitar 200 orang, tetap mereka menulis sampe 300 orang, kemudian tingkat rasio penularannya, artinya seberapa besar virus ini untuk dapat menyebar ke yang lain, yang diukur dari tingkat reproduksi efektif virus tersebut (Rt)," ujar Tri, Jumat (23/5/2020) malam kemarin.

"Kota Bekasi kan Rtnya 0,71. Artinya kalau saya positif belum tentu saya akan memberikan efek positif kepada orang lain karena tingkat rasionya masih 0,71, beda dengan yang terjadi di DKI yang Rtnya sempat 4 walau sekarang sudah berubah ke 1,1," imbuhnya.

Kemudian, dia menambahkan, data terkait ODP dab PDP turut dilakukan klarifikasi dengan berupa menampilkan data yang faktual.

Menurut Tri, meskipun ada kekhawatiran yang muncul tentang timbulnya klaster-klaster baru, pihaknya melihat pelaksanaan salat Id sebagai suatu kemajuan penanganan Covid-19 yang sudah mereka terapkan selama ini.

"Mudah-mudahan saat berangkat salat, setiap orang sudah bersih dari rumah dan mempersiapkan diri dengan protokoler kesehatannya."

"Dan yang paling utama yang kita imbau adalah jangan bersalam-salaman dan jangan berangkat untuk melakukan halal bihalal, karena akan sulit untuk mentrackingnya kalau memang ditemukan warga yang positif. Jangan pernah menganggap bahwa penyakit ini adalah aib," tambahnya.

Tri pun menjelaskan kemudahan tata cara pemetaan bila seseorang terdapat positif dan tidak melakukan halal bihalal, mulai dari lokasi salat, orang-orang yang dia temui di jalan sehingga mudah melakukan tes secara masif nantinya.

Pihaknya juga memiliki cadangan sekira 7000 rapid test yang bisa digunakan untuk masjid-masjid yang sudah mendapatkan rekomendasi untuk melakukan salat Id.

Anies Baswedan Tidak Gelar Open House saat Lebaran Idulfitri 1441 H, Ini Alasannya

Harus Kantongi SIKM, Catat Dokumen yang Harus Disiapkan untuk Warga yang Ingin Kembali ke Jakarta

Diyakini Bisa Sembuhkan Pasien Covid-19, Studi Baru Soal Klorokuin Justru Menyatakan Sebaliknya

Halaman
123
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved