Breaking News:

Persiapan New Normal di Jabodetabek

Skenario Pemkot Bekasi Buka Rumah Ibadah, Toko Kebutuhan Pokok hingga Mal Awal Bulan Juni 2020

Pemerintah Kota Bekasi mengizinkan seluruh rumah ibadah menggelar kegiatan seperti biasa mulai hari Jumat 29 Mei 2020.

TribunJakarta.com/Nawir Arsyad Akbar
Gemerlap lampu hias piramida terbalik di kawasan Summarecon Bekasi, Bekasi Utara, Kota Bekasi, Senin (19/3/2018). TRIBUNJAKARTA.COM/NAWIR ARSYAD AKBAR 

Menurut dia, kebijakan new normal ini diterjemahkan menjadi tatanan kehidupan baru masyarakat produktif melawan Covid-19.

"Jadi itu terjemahan saya, yang pertama yang saya alihkan (buka) adalah agar ekonomi kecil, tenant-tenant (toko) yang ada bisa tumbuh ekonominya, perdagangannya bisa berjalan," ucapnya.

Meski begitu, dia tidak ingin terburu-buru membuka operasional mal secara penuh. Kebijakan membuka mal baru akan keluar setelah PSBB di DKI Jakarta usai dan di Ibukota telah dilakukan hal serupa.

"Malnya bisa bertahan (tidak beroparasi), setelah (PSBB) DKI baru buka, Kami khawatir kalau kami buka (mal duluan), (warga) DKI malah ke kita," tegas dia.

Tak khawatir lonjakan kasus baru

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menyebutkan, tak perlu lagi khawatir dengan adanya lonjakan kasus baru Covid-19 di wilayahnya.

Hal ini berkaitan dengan penerapan tatanan normal baru atau new normal yang secara perlahan mulai dijalankan di wilayah setempat.

"Kalau ada (kasus baru) nggak masalah, nggak perlu ada yang ditakutkan lagi sekarang, ngapain musti takut orang kita alatnya ada, rumah sakitnya ada, apa yang musti kita takutin sekarang, kecuali di awal-awal," kata Rahmat, Rabu, (27/6/2020).

Dia menjelaskan, penanganan kasus corona di Kota Bekasi merupakan hasil jerih payah seluruh warga yang patuh terhadap anjuran pemerintah.

Terlebih, kesiapan alat penunjang dan cara penanganan yang cepat menjadi kunci bagaimana menakan angka penularan kasus positif Covid-19.

"Ya bukan kita, inikan kesadaran bersama trus ini yg paling penting adalah berkenan dengan alat. Kita punya alat PCR (Polymerase Chain Reaction) ada 2 d RSUD dan Dinkes," jelasnya.

"Kita punya rapid hampir 20 ribu, kita reagent (alat tes Covid-19) hampir 15 ribu. Disitulah kekuatannya sehingga hal-hal yang tumbuh karena kasus baru secepat itu (ditangani)," tambahnya.

Rahmat menambahkan, pemerintah pusat secara tidak langsung telah mengakui bagaimana keberhasilan Kota Bekasi menangani pandemi Covid-19.

Buktinya kata dia, kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke salah satu pusat perbelajaan di Kota Bekasi untuk memastikan kesiapan new normal.

"Kita enggak bilang percontohan tapi pemerintah pusat mengakui bahwa Kota Bekasi sudah survive (bertahan). Artinya enggak mungkin dong presiden datang-datang ke sini kalau enggak ada data-data yagn konkret," tegas dia.

Meski begitu, dia menegaskan himbauan RW siaga salam menghadapi pandemi Covid-19 harus tetap dijalankan.

Sebab, kunci dari kesadaran masyarakat tentu harus dimulai dari lingkungan yang paling kecil sehingga tumbuh kesadaran bersama.

"Justru modalnya itu, kalau enggak seperti itu kita enggak mungkin 9 pasien sekarang, RW siaga, karantina terbatas di RT/RW walaupun tidak 1017 RW di Kota Bekasi tidak melakukan itu tapi minimal 80 persen akan tetap melaksanakan itu," terangnya.

Update pasien positif di Bekasi

Berdasarkan data dari situs web corona.bekasikota.go.id, ada 297 kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi hingga Rabu (27/5/2020) kemarin.

Jumlah itu bertambah dua kasus dari sehari sebelumnya.

Pada Selasa lalu kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi tercatat 295. Dari 297 kasus itu, sebanyak 250 pasien dinyatakan sembuh.

Sebanyak 15 orang masih dirawat. Sisanya, 32 pasien telah meninggal dunia.

Selain itu, ada 143 pasien suspect Covid-19 yang meninggal dunia.

Mereka yang meninggal dengan status suspect dimakamkan dengan protokol pemakaman pasien Covid-19.

Kemudian, ada 3.445 orang dalam pemantauan (ODP).

Dari jumlah itu, ada 2.266 orang yang terus dipantau. Sisanyanya, 1.128 telah selesai dipantau.

Total jumlah ODP itu naik 280 orang dari sehari sebelumnya. Selain itu ada 1.079 pasien dalam pengawasan ( PDP).

Dari 1.079 PDP itu, ada 469 orang selesai pengawasannya dan 610 orang masih diawasi.

Jumlah PDP itu berkurang 63 orang dari satu hari sebelumnya. (TribunJakarta.com/Yusuf)

Penulis: wahyu tribun jakarta
Editor: Suharno
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved