Breaking News:

Virus Corona di Indonesia

25 Hari di Bulan Mei 2020, Hanya Ada 3.480 Pergerakan Pesawat di Bandara Soekarno-Hatta

ergerakan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta menurun drastis sejak berlakunya Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

TribunJakarta.com/Istimewa
Bandara Soekarno Hatta Jumat (24/3/2018) TRIBUNJAKARTA.COM/ISTIMEWA 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Pergerakan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta menurun drastis sejak berlakunya Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 4 Tahun 2020.

Juga aturan PM 25 Tahun 2020 Kementerian Perhubungan RI pada 7 Mei lalu.

PT Angkasa Pura II mencatat pergerakan pesawat di Bandara Soekarno-Hatta hanya 3.480 pergerakan take off dan landing.

"Selama 25 hari atau mulai 7 - 31 Mei, pergerakan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta sebanyak 76.716 datang dan pergi domestik maupun internasional. Untuk penerbangan Internasional didominasi oleh WNI repatriasi," kata Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, Senin (1/6/2020).

Sementara, untuk aktivitas kargo di Bandara Soekarno-Hatta tercatat ada 20.861 ton sejak 7 Mei sampai 31 Mei 2020.

Sementara di 18 Bandara PT Angkasa Pura II yang lain pada priode yang sama hanya sebanyak 1.572 pergerakan penumpang dengan 27.091 penumpang dan 5.495 ton kargo.

"Sangat kecil dibandingkan dengan kondisi normal. Artinya, pembatasan dengan pengawasan, pengendalian pergerakan orang sangat efektif di 19 Bandara Angkasa Pura II," ujar Awaluddin.

Awaluddin mengatakan, pembatasan penumpang dengan kriteria khusus tetap akan dilakukan sejalan dengan Surat Edaran nomor 5 tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19.

"Kami akan tetap mengawal sampai penetapan pemerintah di tanggal 7 Juni selesai. Kalau ada hal-hal yang harus disesuaikan akan kami sampaikan lagi," tutur Awaluddin.

Sebagai informasi, selama masa pembatasan penerbangan, orang yang boleh melakukan perjalanan dengan pesawat adalah mereka yang punya izin khusus.

Seperti pelayanan percepatan penanganan Covid-19, pertahanan, keamanan dan ketertiban umum, kesehatan, kebutuhan dasar, pendukung layanan dasar, dan pelayanan fungsi ekonomi penting.

Pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan darurat atau perjalanan orang yang anggota keluar inti tengah sakit keras atau meninggal dunia, juga diperbolehkan melakukan perjalanan.

"Selain itu, Pekerja Migran Indonesia yang akan kembali ke daerah asal juga diperbolehkan melakukan perjalanan rute domestik dengan memenuhi terlebih dahulu persyaratan," tutup Awaluddin.

Penulis: Ega Alfreda
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved