New Normal Matinya American Dream, Pelajaran Apa yang Harus Dipetik Indonesia

Bisa jadi, jika huru hara di dalam negeri tidak dapat dihentikan, Amerika Serikat akan kehilangan pemimpin tertingginya Presiden Donald Trump.

Editor: Y Gustaman
Instagram @realdonaldtrump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. 

"Kalau sistem ekonomi Pancasila menjadi konsern bersama, Indonesia harusnya sudah berdaulat, mandiri dan kuat dalam ekonomi,” terang Putut.

Uskup Militer Italia, Mgr Santo Marciano saat berdiskusi dengan Alumnus Lemhannas RI PPSA XXI, AM Putut Prabantoro (berbatik), dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) dan yang didampingi oleh Pastor Leo Mali Pr dari Keuskupan Agung Kupang, NTT, di Roma, Rabu (5/6/2019).
Uskup Militer Italia, Mgr Santo Marciano saat berdiskusi dengan Alumnus Lemhannas RI PPSA XXI, AM Putut Prabantoro (berbatik), dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) dan yang didampingi oleh Pastor Leo Mali Pr dari Keuskupan Agung Kupang, NTT, di Roma, Rabu (5/6/2019). (Istimewa)

American Dream, urai Putut lebih lanjut, merupakan visi warga negara Amerika dalam mewujudkan kehidupannya.

Mimpi ini berakar pada Deklarasi Kemerdekaan dan juga Konstitusi Amerika Serikat. Dalam Deklarasi Kemerdekaan AS disebutkan, bahwa “semua manusia diciptakan sama” dengan hak untuk “hidup, kebebasan dan mengejar kebahagiaan”. 

Sementara Konstitusi Amerika dalam pembukaannya mengatakan, “mengamankan Berkah Kebebasan Untuk Diri Kita Sendiri dan Keturunan Kita”.

Penulis AS, James Truslow Adams dalam bukunya Epic Of Amerika (1931) memperjelas American Dream dengan mengatakan, “Mimpi tentang tanah di mana hidup harus lebih baik dan lebih kaya dan lebih lengkap untuk semua orang, dengan kesempatan untuk masing-masing sesuai dengan kemampuan” atau prestasi terlepas dari kelas sosial atau keadaan kelahiran”.

"Dalam American Dream tidak dikenal istilah gotong royong. Warga AS hidup secara individual. Mengingat warga negara AS awal adalah para pendatang dari berbagai bangsa dan negara."

"Kompetisi adalah kata yang paling dominan dalam mewujudkan American Dream. Kompetisi untuk mewujudkan American Dream dengan menjadi kaya dan bahagia kemudian menjadi jati diri bangsa AS."

Putut yang juga Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) ini menilai, salah satu kegagalan AS menghadapi pandemi Covid adalah tidak adanya gotong royong di antara warga. Mereka ingin menyelamatkan diri secara individu.

Parahnya, selain kehilangan pekerjaan sebagai dampak dari pandemi, masyarakat AS masih harus menghadapi beban utang pribadi, yang selama ini membiaya “hidup bahagia” sebagai wujud dari American Dream.

Sekalipun memiliki mobil, meminta tunjangan makan dari pemerintahnya merupakan pemandangan yang umum dalam masa pendemi ini.

Selain karena utang 27 triliun dolar AS, Amerika mengalami kehancuran ekonominya akibat pandemi. Sejak pandemi tercatat ada 40 juta pengangguran di mana 55 persennya adalah perempuan.

Angka pengangguran ini naik dari 4,4 persen (Maret 2020) menjadi 14,7 persen (Mei 2020). Selain itu, 1 dari 5 rumah tangga kekurangan pangan dan 6,1 juta self worker (pekerja informal) meminta tunjangan pengangguran. Suramnya masa depan masyarakat AS juga diperparah dengan huru hara secara nasional di AS.

Jika tidak merupakan kematian American Dream, tegas Putut, saat ini merupakan kematian kapitalisme. Kematian American Dream, hancurnya ekonomi AS dan kapitalisme harus menjadi pelajaran bagi Indonesia melaksanakan tatanan baru kehidupan ekonominya.

New “Habitus Baru” Normal harus dijadikan momentum untuk mewujudkan The New Indonesia yang mandiri dan berdaulat.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved