Waspadai Rasa Panas di Bagian Dada Bisa Jadi Indikasi Penyakit GERD, Simak Penjelasannya

Pada penderita GERD, asam lambung akan kembali naik ke kerongkongan hingga menyebabkan pada iritasi

Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Muhammad Zulfikar
Tribun Jateng/Hermawan Handaka
ilustrasi sakit di dada 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease merupakan penyakit lambung yang banyak dialami oleh masyarakat.

Berbeda dengan maag, penyakit ini melibatkan kerongkongan atau esofagus yang mana terhubung langsung antara lambung dengan mulut.

Pada penderita GERD, asam lambung akan kembali naik ke kerongkongan hingga menyebabkan pada iritasi.

"Jadi suatu penyakit atau gejala yang timbul akibat naiknya atau kembalinya asam lambung disebut GERD. Ini karena katup atau sfingter, sehingga rasanya lebih ke arah kerongkongan terbakar, atau kadang nyeri pada dada," kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Eka Hospital, Annisa Maloveny, Senin (22/6/2020).

Pada ujung bawah kerongkongan, terdapat sebuah katup atau disebut sfingter yang pada umumnya akan terbuka ketika kita memasukan makanan ke dalam lambung.

Dalam kondisi normal, katup tersebut akan tertutup rapat jika makanan sudah masuk ke dalam lambung.

Namun, pada penderita GERD katup ini tidak bisa berfungsi dengan baik atau kendur hingga menyebabkan asam lambung naik dan mengiritasi kerongkongan.

Beberapa gejala memang umum terjadi pada penderita penyakit GERD.

Meski begitu, tidak semua penyakit GERD dapat dengan mudah dikenali hingga membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

"Karena GERD ini ada dua macam gejalanya. Ada gejala khas dan tidak khas," ujar dr Annisa.

Tanda-tanda yang umum terjadi, biasanya meliputi rasa panas atau seperti terbakar di dada, asam, serta nyeri pada bagian ulu ati.

Namun pada beberapa kasus, rasa seperti sesak di bagian dada, terasa seperti ada benjolan di area kerongkongan, batuk kronis, hingga suara yang serak juga dapat terjadi pada pasien penderita GERD.

"Ini yang disebut sebagai gejala tidak khas, hingga tidak bisa didiagnosis," tuturnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved