Popularitas Partai Presiden Erdogan Menurun Karena Covid-19 dan Tekanan Ekonomi

Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang dipimpin Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dinilai telah kehilangan banyak dukungan

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.(AFP / ADEM ALTAN) 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Hasil survei yang dilakukan oleh sebuah lembaga independen menyebutkan bahwa Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang dipimpin Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dinilai telah kehilangan banyak dukungan selama beberapa bulan terakhir.

Grup riset independen MetroPoll Arastirma melakukan survei setiap bulan dengan melakukan jajak pendapat, “Jika ada pemilihan parlemen Minggu ini, partai politik mana yang akan Anda pilih?” dan pemilih menjawab akan memilih presiden baru serta 600 anggota parlemen untuk masa jabatan lima tahun.

Pemilihan umum di Turki sendiri akan dijadwalkan pada 2023 mendatang, kutip Al-Arabiya, Selasa(7/7/2020).

Meski untuk sementara, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) masih memimpin polling dengan selisih hampir enam poin di depan partai oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP) menurut jajak pendapat Juni lalu. Namun, yang menjadi catatan, AKP telah kehilangan dukungan selama beberapa bulan terakhir.

CHP adalah partai sosial-demokratis dan merupakan partai politik tertua di Turki. Partai ini juga dianggap sebagai oposisi utama di Lembaga Majelis Nasional.

Dari Januari hingga Maret, partai Erdogan tetap stabil, dengan 33,7 persen responden mengatakan mereka akan memilih AKP, tetapi pada Juni dukungan telah turun menjadi 30,3 persen.

Dalam jajak pendapat Mei, 30,7 persen responden mengatakan mereka akan memilih AKP jika ada pemilihan dilakukan waktu itu.

MetroPoll Arastirma tidak menyebutkan berapa banyak responden yang mereka gunakan dalam survei ini.

Hasil survei ini kemungkinan juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi Turki yang telah memburuk selama dua tahun terakhir, dan dinilai menuju ke dalam resesi pada Maret 2019, dengan inflasi yang terus berlanjut.

Pada pertengahan 2019, pengangguran tercatat sekitar 15 persen, dan penurunan ekonomi mengikis popularitas partai berkuasa. AKP memenangkan pemilihan walikota lokal bulan Maret 2019 secara nasional, tetapi kehilangan tiga kota terbesar di Turki, Istanbul, Ankara, dan Izmir.

Pada bulan April, sebuah jajak pendapat Reuters memperkirakan ekonomi Turki akan berkontraksi tahun ini untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade ketika pandemi coronavirus memangkas produksi hingga pertengahan tahun.

Sebelum wabah koronavirus, pemerintah memperkirakan ekonomi tumbuh 5 persen tahun ini setelah pulih dari resesi tahun lalu. Turki saat ini memiliki jumlah infeksi coronavirus tertinggi ke-14 di dunia.

“Keuangan Ankara melemah sebelum pandemi — tetapi kombinasi utang luar negeri, krisis kesehatan masyarakat, dan seorang presiden yang memilih untuk melindungi reputasinya daripada kemampuan rakyatnya mengantisipasi bencana,” demikian bunyi artikel Kebijakan Luar Negeri yang dilansir Al-Arabiya.

Turki baru-baru ini juga aktif melibatkan diri dalam perang yang sedang berlangsung di Libya ketika Ankara tengah berupaya untuk mengamankan pasokan gas alam di Mediterania Timur.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved