Duka di Balik Museum Taman Prasasti: Ada Peti Jenazah Bung karno dan Bung Hatta

Ini merupakan peti yang pernah mengantarkan jenazah Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta saat menuju liang lahat.

Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Pebby Ade Liana
Peti Jenazah yang pernah mengantarkan jenazah Bung Karno dan Bung Hatta menjadi koleksi di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat. 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, TANAH ABANG - Museum Taman Prasasti, menyimpan banyak cerita masa lalu tentang sejarah Ibu Kota Jakarta.

Jakarta, yang dulu dikenal dengan nama Batavia merupakan kota yang cukup ramai penduduk dibawah pimpinan VOC.

Museum ini, merupakan bekas pemakaman umum bagi orang-orang asing yang tinggal di Batavia.

Demikian kisah yang diceritakan oleh Eko Wahyu, sebagai pemandu wisata di Museum Taman Prasasti saat ditemui TribunJakarta, Jumat (17/7/2020).

"Museum ini awalnya adalah pemakaman khusus untuk warga asing yang tinggal di Batavia. Pemakaman dengan awalnya bernama Kebon Jahe Kober ini diresmikan oleh pemerintah Belanda atau VOC tanggal 28 September tahun 1795," jelasnya.

Dibangun dengan luas lahan sekitar 5,5 hektare, pemakaman ini merupakan makam pindahan dari yang sebelumnya sudah ada.

Tepatnya di kawasan yang kini dikenal sebagai lokasi Museum Wayang, Jakarta Kota.

Karena makam tersebut dinilai tak mampu lagi menampung banyaknya jenazah yang terkubur, maka makam dipindahkan ke pinggiran kota Batavia.

"Lokasinya memang di pinggiran kota Batavia. Kenapa dipinggiran? Karena menurut mereka pemakaman itu menjadi salah satu penyebab udara tidak sehat dan bisa menimbulkan penyakit," tuturnya.

Banyak tokoh terkenal yang dimakamkan di sini.

Salah satunya adalah Lady Raffles, yang merupakan sosok istri pertama dari Gubernur Jendral Inggris yang juga merupakan salah satu pendiri Singapura.

Lady Raffles memiliki nama asli Olivia Mariamne Raffles, adalah istri pertama dari Thomas Stamford Raffles, Letnan Jenderal Hindia Belanda pada masa pendudukan Inggris tahun 1800an.

Namun, pemakaman ini hanya bertahan hingga tahun 1974 saja.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved