Breaking News:

Food Story

Kisah Kedai Sate Jaya Agung Lamongan di Menteng, Punya Banyak Julukan, Hingga Langganan Pejabat

Para pembeli berasal dari berbagai kalangan di antaranya, mulai dari pegawai kantor, pengusaha, hingga pejabat tinggi.

TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Suasana tampak depan kedai Sate Kambing Jaya Agung Lamongan di Jalan Wahid Hasyim No. 56 C Sabang, Jakarta Pusat pada Rabu (22/7/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, MENTENG - Sate Jaya Agung Lamongan tetap setia memanjakan lidah para pengunjung sampai saat ini.

Kedai sate itu sudah mengepulkan asap sejak tahun 1960-an di sekitar Sarinah, Jakarta Pusat.

Empuknya sate kambing dan gurihnya kuah gulai membuat kedai itu selalu ramai dikunjungi terutama jam makan siang dan saat akhir pekan.

Meski asli orang Lamongan, Djali Soeprapto (80), pemilik usaha kedai tersebut, bukan saja menjual soto khas kampungnya tetapi juga menjual sate kambing.

Agung (27), anak Djali yang ketiga, menceritakan usaha kedai sate ayahnya berdasarkan cerita yang ia tahu.

Sekitar tahun 1960-an di sekitaran Jakarta Pusat, pedagang asli Lamongan lebih banyak menjual soto bukan membuka usaha warung pecel lele.

Kala itu, warung pecel lele belum dikenal orang. Beda dengan sekarang yang sangat mudah dijumpai.

Pedagang asli Lamongan, lanjut Agung, biasanya berjualan soto, pecel lele atau pecel ayam bukan sate.

Ayahnya, lanjut Agung, barangkali ingin berbeda dari penjual soto Lamongan kebanyakan. Selain soto, ia juga menjual sate kambing.

Halaman
1234
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved