Antisipasi Virus Corona di Tangsel
Selama PSBB di Tangsel, 35 Panggilan Manggung Grup Dangdut SK Batal, Nilainya Lebih Rp 1 Miliar
Emon, MC dangdut grup SK itu mengeluhkan banyaknya jumlah panggilan manggung yang dibatalkan karena kebijakan PSBB.
Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Wahyu Aji
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir
TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG SELATAN - Di balik kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), ternyata sangat berdampak pada dunia panggung dangdut di Tangerang Selatan (Tangsel).
Pembatasan kegiatan budaya dan hiburan yang tidak mengizinkan gelaran resepsi pernikahan serta sunatan, membuat grup dangdut di Tangsel kehilangan pekerjaan.
Hal itulah yang dialami grup dangdut SK (Stereo Kendor), salah satu yang terbesar di Tangsel.
Emon, MC dangdut grup SK itu mengeluhkan banyaknya jumlah panggilan manggung yang dibatalkan karena kebijakan PSBB.
PSBB di Tangsel memang sudah berlangsung cukup lama dan sudah enam kali diperpanjang sejak pertengahan April 2020 hingga saat ini.
Terlebih, ketakutan akan kerumunan yang sudah pasti akan muncul pada setiap panggung dangdut sudah mulai terjadi sejak kasus Covid-19 pertama di Indonesia pada awal Maret 2020 lalu.
Emon mengungkapkan, seharusnya, periode sebelum Bulan Ramadan, SK manggung di 15 titik hajatan di Tangsel.
Setelah lebaran hingga pekan ketiga Bulan Juli 2020 ini, ada 20 panggilan manggung yang telah disepakati.
Namun 35 panggung yang menjadi mata pencaharian 50 personel dan kru grup dangdut SK harus batal.
"Kalau enggak ada yang nanggap itu dari sebelum puasa ya, kita batal acara 15 titik, karena ada corona. Itu sebelum puasa ya, mau penutupan. Setelah lebaran, ini dari bulan Juni sampai Juli lebih dari 20 yang gagal," ujar Emon kepada TribunJakarta.com, Jumat (24/7/2020).
Emon membeberkan, per setiap sekali manggung, grup dangdut SK menerima bayaran sebesar Rp 35 juta, dan itu dibagi untuk seluruh personel dan kru, termasuk para biduan.
"Wah kalau kita satu kali job aja SK itu Rp 35 juta untuk satu grup SK itu ya. Bisa 30 35 (panggilan manggung) ya dikalikan saja mata pencaharian kita cuma di situ. Pas itu ada PSBB ada larangan ya sudah mati total," ujarnya.
Bukan hanya SK, seluruh grup dangdut yang ada di Tangsel, termasuk penyewa panggung, tenda, sound system hingga lighting, ikut terdampak PSBB.
Penghasilan mereka hilang, roda ekonomi di lingkar pekerja seni terhenti.
"Mungkin di Tangsel ratusan grup, puluhan ribu orang. Rata-rata ngeluh, tukang tenda, tukang rias, bahkan ada yang Bulan Juni sudah di-DP-in, batal, Bulan Juli DP batal," ujarnya.
Kini, Emon tengah memperjuangkan aspirasi para pekerja seni, dengan meminta pengertian Pemkot Tangsel untuk mengizinkan kegiatan hajatan dan hiburan.
Menurut Emon, bantuan sosial saja tidak cukup menyelesaikan permasalahan kebutuhan hidup.
Keperluan sekolah anak, tanggungan biaya kontrakan rumah, hingga kebutuhan lain yang tidak bisa ditunda, terus membayangi.
Emon dan para pekerja seni hanya ingin bisa kembali manggung, memegang mikrofon dan menghibur masyarakat.
Melakui Forum Pekerja Seni Tangsel, Emon dan kawan-kawan sudah menyampaikan aspirasinya ke Komisi II DPRD Tangsel.
"Kemarin kita sudah ngasih surat pengantar diterima Komisi II DPRD Tangsel. Surat sudah diterima tinggal nunggu panggilan. InsyaAllah sih minggu-minggu ini," ujarnya.
Selain melalui jalur formal, Emon juga mengutarkan keluhannya melalui sebuah video yang akhirnya viral di media sosial.
Dalam video itu, Emon memeluk nisan bertuliskan "Pekerja Seni Tangsel Berduka" dan berharap didengar masyarakat.
"Saya mewakili pekerja seni Kota Tangerang Selatan, turut berduka cita, setelah empat bulan kami menunggu izin, rindu akan hiburan di Kota Tangerang Selatan. Mohon kepada pimpinam kami, pekerja seni, untuk aktif kembali, terima kasih," ujar Emon dalam video.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/emon-mc-dangdut.jpg)