Breaking News:

Sempat Tuai Polemik, Anies Baru Sadar Toa Rp 4 Miliar Tak Efektif Sebagai Peringatan Dini Banjir

Hampir delapan bulan setelah polemik itu muncul, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru menyadari pembelian pengeras suara itu tak efektif.

Penulis: Dionisius Arya Bima Suci | Editor: Erik Sinaga
ISTIMEWA
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam diskusi Rabu (22/7/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Pembelian enam set toa atau pengeras suara sebagai sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) banjir sempat menuai polemik di awal tahun 2020 ini.

Selain menghabiskan anggaran Rp 4 miliar, pengadaan pengeras suara sebagai sistem peringatan dini juga dinilai sebagai cara kuno.

Hampir delapan bulan setelah polemik itu muncul, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru menyadari pembelian pengeras suara itu tak efektif.

Dalam rapat bersama jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ditayangkan akun youtube Pemprov DKI, Anies pun tampak kecewa dengan pembelian tersebut.

"Ini bukan early warning system, ini toa. Kalau EWS itu kejadian air di Katulampa sekian, lalu Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, MRT, Satpol PP, seluruhnya tahu wilayah mana yang punya risiko," ucapnya dalam video yang dilihat TribunJakarta.com Jumat (7/8/2020) itu.

"Jadi, sebelum kejadian kita sudah siap antisipasi," sambungnya.

Anies baru menyadari hal ini setelah banjir besar mengepung ibu kota pada awal 2020 lalu.

Padahal, toa tersebut sudah dipasang di sejumlah kelurahan yang rawan banjir.

"Kejadian seakan-akan seperti banjir pertama. Kita menanganinya malah ad hoc. Padahal, tanah itu sudah puluhan tahun kena banjir," ujarnya.

Soal Pedagang Hewan Kurban Jualan di Trotoar Jalan, Begini Kata Kasatpol PP Jakarta Pusat

Politikus PDIP Minta Anies Sosialisasi Protokol Kesehatan Lewat Toa Banjir Saat New Normal

Baru Diperbaiki, Toa Banjir di Bidara Cina Jangkauannya Hanya Radius 100 Meter

Anies kemudian meminta Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI tak lagi memberi pengeras suara atau toa sebagai sistem peringatan dini.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini pun meminta BPBD untuk membuat sistem peringatan dini baru yang lebih efektif dan efisien.

"Jangan diteruskan belanja (toa) ini. Toa yang sudah terlanjur ada ya sudah dipakai saja. Tapi, tidak usah ditambah, bangun sistem baru, jangan toa seperti ini," kata Anies.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved