Breaking News:

Persidangan YouTuber Putra Siregar

Jaksa Bawa Ahli dari Dua Kementerian Hingga Pidana untuk Buktikan Dakwaan Putra Siregar

Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri Jakarta Timur, Milono mengatakan sedikitnya ada empat saksi ahli yang dihadirkan selanjutnya.

Penulis: Bima Putra | Editor: Wahyu Aji
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
JPU Kejaksaan Negeri Jakarta Timur saat menunujukkan barang bukti handphone ilegal yang dijual Putra Siregar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (24/8/2020).  

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CAKUNG - Kejaksaan Negeri Jakarta Timur tidak hanya menghadirkan satu saksi ahli dalam sidang dugaan penjualan handphone ilegal yang dilakukan Putra Siregar.

Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri Jakarta Timur, Milono mengatakan sedikitnya ada empat saksi ahli yang dihadirkan dalam persidangan berikutnya.

"Ahli dari Kementerian Perindustrian, Kepabeanan (Bea dan Cukai), dan satu lagi ahli pidana, lalu Kementerian Perdagangan," kata Milono di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (24/8/2020).

Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri Jakarta Timur Milono saat memberi keterangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (18/8/2020). 
Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri Jakarta Timur Milono saat memberi keterangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (18/8/2020).  (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Saksi ahli tersebut guna membuktikan dakwaan mereka terhadap Putra yang dijerat pasal 103 huruf d UU No 17 tahun 2006 tentang Kepabeanan.

Menurutnya dalam sidang keempat yang dijadwalkan pada Senin (31/8/2020) mendatang saksi yang dihadirkan merupakan saksi ahli.

"Kita (JPU Kejaksaan Negeri Jakarta Timur) bicarakan mana saksi ahli yang kita hadirkan lebih dulu. Kalau di berkas ada lebih dari satu ahli," ujarnya.

Dari lima saksi yang sudah lebih dulu memberi keterangan ke Majelis Hakim, Milono menuturkan sudah terungkap sejumlah hal.

Di antaranya bahwa Putra menjual handphone ilegal atau tidak melewati urusan kepabeanan yang dikirim dari Batam oleh sejumlah sosok penyuplai.

Menjual handphone batangan, yakni handphone tanpa kelengkapan dus berikut penunjangnya, dan tanpa garasi resmi distributor.

"Nanti kita lihat (fakta persidangan), kita lihat perkembangan kedepan sama-sama, mudah mudahan saksi ahli bisa hadir semua yang kita panggil kita hadirkan," tuturnya.

Perkara yang menjerat Putra Siregar berawal pada tahun 2017 saat Kanwil Bea dan Bandung mendapati pengiriman ratusan handphone ilegal dari Batam.

Setelah mengetahui handphone hendak dikirim ke Jakarta Kanwil Bea dan Cukai Bandung berkoordinasi dengan Kanwil Bea dan Cukai DKI.

Hasilnya pada bulan November tahun 2017 penyidik mengamankan 191 handphone ilegal dari tiga gerai PS Store milik Putra Siregar.

"Di PS Store Condet kami lakukan pengecekan langsung beberapa handphone, hasilnya handphone diduga kuat ilegal. Lalu kami bawa ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut," kata penyidik Kanwil Bea dan Cukai DKI Jakarta, Frengki Tokoro.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved