Jakob Oetama Meninggal Dunia

Jakob Oetama Akan Menerima Penghormatan Terakhir di Kantor Kompas Gramedia Palmerah

Jenazah Jakob Oetama akan menerima penghormatan terakhir di Kantor Kompas Gramedia di Palmerah Selatan, Rabu (9/9/2020).

Tribunnews.com
Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama, meninggal dunia pada usia 88 tahun, pada Rabu (9/9/2020). 

Jakob sempat direkomendasikan mendapatkan beasiswa di University of Columbia, Amerika Serikat oleh salah satu guru sejarahnya ketika bersekolah di B-1 Sejarah yang juga seorang pastor Belanda, Van den Berg, SJ.

Jakob akan memperoleh gelar PhD dan akan menjadi sejarawan atau dosen sejarah.

Jakob juga sempat diterima sebagai dosen di Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung, dan disiapkan rumah dinas bagi keluarganya.

Unpar juga sudah menyiapkan rekomendasi PhD di Universitas Leuven, Belgia setelah Jakob beberapa tahun mengajar di sana.

Jakob merasa bimbang apakah ingin menjadi wartawan profesional ataukah guru profesional.

Kemudian Jakob menemui Pastor JW Oudejans OFM, pemimpin umum di mingguan Penabur.

Oudejans, Pastor tersebut menasihatinya bahwa guru sudah banyak namun wartawan tidak.

Saat itulah yang menjadikan titik balik Jakob untuk fokus menggeluti dunia jurnalistik.

Pada awal 1960-an Jakob aktif menjadi pengurus Ikatan Sarjana Katolik Indonesia bersama Petrus Kanisiun (PK) Ojong.

Persahabatan Jakob dan Ojong berasal dari kesamaan pandangan politik dan nilai kemanusiaan yang dianut.

Pada April 1961, PK Ojong mengajak Jakob untuk mendirikan sebuah majalah.

Majalah tersebut diberi nama Intisari mengenai perkembangan dunia ilmu pengetahuan.

Majalah Intisari yang didirikan oleh Jakob Oetama dan PK Ojong Bersama J. Adisubrata dan Irawati SH pertama kali terbit pada 17 Agustus 1963.

Majalah ini bertujuan untuk memberi bacaan bermutu dan membuka cakrawala masyarakat Indonesia.

Intisari juga dibuat sebagai pandangan politik Jakob dan Ojong yang menolak belenggu terhadap masuknya informasi dari luar.

Dalam penerbitannya, Intisari juga melibatkan banyak ahli di antaranya adalah ahli ekonomi Prof. Widjojo Nitisastro, penulis masalah-masalah ekonomi terkenal seperti Drs. Sanjoto Sasstromohardjo, dan sejarawan muda Nugroho Notosusanto.

Berkat pergaulan PK Ojong yang sangat luaslah Intisari berhasil terbit.

Saat itu Intisari terbit dengan tampilan hitam putih dan tanpa sampul.

Intisari mendapat respon yang baik dari para pembaca dan beroplah 11.000 eksemplar.

Dilansir oleh TribunnewsWiki dari Kompas.com pada (14/5/2019), kehadiran Intisari dianggap belum cukup.

Di tahun 1965 Jakob Bersama PK Ojong mendirikan Surat Kabar Kompas.

Saat itu Indonesia sedang berada pada masa pemberontakan PKI.

Kemudian didirikanlah Surat Kabar Kompas yang dimaksudkan untuk menjadi pilihan alternatif dari banyaknya media partisan yang terbentuk dari kondisi politik Indonesia pasca Pemilu 1995.

Nama Kompas sendiri merupakan pemberian dari Presiden Soekarno yang berarti penunjuk arah.

Sebelumnya, nama yang akan dipilih adalah ‘Bentara Rakyat’ yang berarti koran itu ditujukan untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat rakyat.

Moto yang dipilih pun “Amanat Penderitaan Rakyat”.

Namun Presiden Soekarno saat itu kurang setuju dan mengusulkan nama “Kompas”.

Kemudian dari perkembangan Kompas inilah berdiri kelompok usaha Kompas Gramedia.

Mengutip dari Kompas.com, dalam perjalanan membesarkan Intisari dan Kompas, Jakob Oetama dan PK Ojong berbagi tugas.

Jakob bertanggung jawab atas editorial sedangkan Ojong bertanggung jawab atas bisnis.

Jakob dan Ojong selalu menanamkan pentingnya nilai kemanusiaan dan etika jurnalistik yang tinggi dalam setiap laporan yang ditulis Kompas.

Pengembangan bisnis harus sejalan dengan kepercayaan pembaca.

Maka dari itu Kompas selalu mengedepankan rasa kepercayaan dari masyarakat.

Pada 1980, setelah 15 tahun Bersama PK Ojong mengembangkan Kompas, Ojong meninggal dalam tidurnya.

Hal ini membuat Jakob yang awalnya hanya berfokus pada editorial harus mengurus Kompas dalam aspek bisnis juga.

Dengan sifat penuh kerendahan hati, akhirnya Jakob berhasil mengembangkan Kompas Gramedia Group dalam berbagai sektor bisnis.

Jakob juga aktif dalam berbagai organisasi dalam maupun luar negeri.

Beliau pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Anggota DPR Utusan Golongan Pers, Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia, Anggota Dewan Penasehat PWI, Anggota Dewan Federation Internationale Des Editeurs De Journax (FIEJ), Anggota Asosiasi Internasional Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawai.

(TRIBUNJAKARTA/KOMPAS)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jakob Oetama Akan Dapat Penghormatan Terakhir di Kantor Kompas Gramedia Palmerah",

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved