Breaking News:

Antisipasi Virus Corona di DKI

Pembatasan Jam Operasional Rumah Makan Buat Pelaku Usaha ‘Menjerit’, Ini Kata Wali Kota Depok

Kebijakan pembatasan operasional tempat kerja, toko, restoran, tempat makan, serta pembatasan aktivitas warga pada malam hari di Kota Depok.

TRIBUNJAKARTA.COM/DWI PUTRA KESUMA
Wali Kota Depok, Mohammad Idris, saat dijumpai wartawan di Balai Kota Depok, Pancoran Mas, Senin (14/9/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS – Kebijakan pembatasan operasional tempat kerja, toko, restoran, tempat makan, serta  pembatasan aktivitas warga pada malam hari di Kota Depok, Jawa Barat, terus menuai kontroversi hingga saat ini.

Diwartakan sebelumnya, untuk mengendalikan peningkatan dan penyebaran Covid-19, operasional tempat kerja, toko, restoran, dan tempat makan, dibatasi hingga pukul 18.00 WIB.

Sementara untuk aktivitas warga, dibatasi hingga pukul 20.00 WIB malam.

Protes pun datang dari berbagai macam pihak, satu diantaranya adalah dari kalangan pedagang yang khususnya baru beroperasi sore menjelang malam hari.

Menanggapi keluhan tersebut, Wali Kota Depok, Mohammad Idris, menuturkan, pihaknya akan mendengar semua masukan yang datang pada pihaknya, dan mencarikan solusi atau jalan keluarnya.

Jakarta Terapkan PSBB Ketat, Persija Masih Bisa Latihan di Kompleks Militer?

“Itu kami dengarkan nanti secara implementasi keluhannya apa dan bisa kita kasihkan jalan keluar. Misalnya tukang pecel lele kemarin yang ngadu ke saya di Sawangan, dia bilang bukanya pukul 16.00 WIB sore, melayani langsung makan di situ boleh dengan protokol kesehatan sampai pukul 18.00 WIB. Setelah itu dialihkan jadi take away hingga pukul 20.00 WIB, jadi seperti itu,” kata Idris di Balai Kota Depok, Pancoran Mas, Senin (14/9/2020).

Sebelumnya diwartakan, ada salah seorang pedagang ketoprak di Jalan Raya Margonda, yang bahkan harus merogoh kocek lebih dalam lagi imbas dari kebijakan ini.

Adalah Kardinah, kala ditemui TribunJakarta.com beberapa waktu silam, ia ‘menjerit’ lantaran baru berjualan pada sore menjelang malam hari.

Akibat adanya kebijakan pembatasan jam operasional ini, Kardinah mengaku dirinya terpaksa harus mencari lapak baru untuknya berdagang pada pagi hingga sore hari.

Aturan Baru PSBB: Hotel Harus Siapkan Ruang Isolasi hingga Tamu Hanya Boleh Beraktivitas Dalam Kamar

Namun, lapak baru pun menjadi persoalan yang baru juga lantaran dirinya harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk membayar sewa, sementara penghasilannya pun sudah semakin menyusut sejak pandemi Covid-19.

“Paling saya nyari lapak baru biar bisa dagang siang. Tapi kan pasti bayar lagi, nyarinya juga sudah. Lapak di sini (Jalan Margonda) sudah penuh semua,” keluhnya.

Penulis: Dwi putra kesuma
Editor: Suharno
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved