Breaking News:

Majalah Mata Air Bagikan Majalah Gratis Untuk Masyarakat Terdampak Pandemi

Majalah Sains Mata Air membagikan 12.000 "majalah tergantung" di perumahan warga, sekolah, masjid, dan rumah baca

Istimewa
Majalah Sains Mata Air membagikan 12.000 "majalah tergantung" 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat sebagian anggota masyarakat mulai jenuh untuk tinggal di rumah.

Mereka membutuhkan informasi yang sejuk dan mencerahkan untuk memperkaya wawasannya di tengah kondisi pandemi ini.

Tanggap dengan fenomena tersebut, sepanjang bulan Agustus dan September 2020, Majalah Sains Mata Air membagikan 12.000 "majalah tergantung" di perumahan warga, sekolah, masjid, dan rumah baca di sekitar Tangerang Selatan, Depok, dan Jakarta.

"Kami ingin mengajak masyarakat untuk tetap produktif dan kreatif, di mana sumber-sumber inspirasi salah satunya berasal dari bacaan yang berkualitas dan inspiratif," kata Tegar Rezavie Ramadhan, Management Advisor Majalah Mata Air dalam keterangan resminya, Kamis (17/9/2020).

Dituturkannya, Majalah Mata Air yang konten-kontennya membahas inspirasi dari ranah sains, budaya, dan spiritual berharap dapat membangkitkan semangat masyarakat terdampak Covid-19 melalui artikel-artikelnya yang mampu menyegarkan pikiran dan jiwa.

Dedikasikan Hidup Sebagai Wartawan, Alwi Shahab Masih Hasilkan Karya Jurnalistik Saat Sakit 

Pihak Keluarga Kenang Alwi Sebagai Sosok yang Baik, Tanggung Jawab Hingga Tak Pernah Marah 

Apalagi, majalah yang hingga kini konsisten tidak menerima iklan itu penulisnya merupakan para peneliti dan ahli dari berbagai kalangan yang kredibel.

Kembali ke majalah tergantung, istilah tersebut adalah istilah yang terinspirasi dari artikel berjudul "Kopi Tergantung" yang terbit pada Majalah Mata Air edisi Januari-Maret 2014.

Kopi Tergantung menceritakan perjalanan dua sahabat yang berisitirahat di kedai kopi, tepatnya di pinggir Sungai Venesia, Italia.

Ketika berada di kedai kopi tersebut, mereka terheran dengan peristiwa yang terjadi di hadapannya, yaitu ketika ada seorang laki-laki masuk dan memesan kopinya: "Uno café, uno suspeso, satu kopi, satu digantung," ucapnya.

Lalu bartender menyerahkan secangkir kopi padanya dan menggantung secarik kertas di dinding.

Halaman
12
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved