Waspadai Gejala Dini Pikun ini Sering Diabaikan, Simak Penjelasannya

Dalam istilah medis, pikun juga dikaitkan dengan gejala demensia yang mengacu pada penurunan fungsi otak. Pikun juga bisa terjadi pada kaum muda

Tayang:
YouTube/KRITRIM VAULT
Ilustrasi Otak 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Kita tentu familiar dengan istilah pikun.

Pikun sendiri diartikan sebagai kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan dalam mengingat.

Dalam istilah medis, pikun juga dikaitkan dengan gejala demensia yang mengacu pada penurunan fungsi otak.

Meski biasanya terjadi pada usia tua, namun pikun juga bisa terjadi pada kaum muda.

"Pikun adalah istilah Indonesia. Demensia dalam istilah medis. Demensia ini penyebabnya banyak, salah satu yang paling sering adalah alzheimer," kata Dokter Spesialis Saraf dari RSUI Depok, Pukovisa Prawiroharjo dalam webinar Bicara Sehat RSUI, Rabu (23/9/2020).

Masyarakat awam, seringkali menganggap gejala pikun sebagai hal yang wajar hingga mengabaikannya.

Padahal, pikun yang tidak ditangani segera bisa menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu.

Menurut dokter Pukovisa, ada beberapa gejala dini yang bisa menjadi perhatian.

Salah satunya adalah labil dalam menentukan keputusan.

"Gejala dini pikun pertama adalah labil emosinya, termasuk pendirian atau keputusan ya. Jadi ragu atau bahkan secara emosional. Bisa tiba-tiba dia mengurung diri di rumah, itu beda dibandingkan dengan karakter dia yang dulu," kata dia.

Benarkah Pikun Hanya Terjadi Pada Orang Lanjut Usia? Simak Penjelasan Dokter Spesialis

Makan Brutu Ayam Mitosnya Bisa Bikin Pikun, Ternyata Malah Kaya Nutrisi dan Bagus Untuk Tubuh Loh!

Jamur Berkhasiat Tingkatkan Fungsi Otak dan Cegah Kepikunan, Ini Penjelasannya

Kemudian, gejala dini kedua yang bisa menjadi perhatian adalah sikap yang sering linglung atau kebingungan dalam sehari-hari.

Juga sering mengalami lupa. Lupa yang perlu diwaspadai mulai dari meletakan barang sehingga kemudian kesulitan dalam mencari barang tersebut, lupa jalan, lupa nama, lupa suatu hal hingga menyebabkan menurunnya produktifitas, lupa beberapa informasi yang bersifat lama hingga lupa yang beresiko merugikan.

Misalnya lupa mematikan kompor.

"Itu sering. Jadi lupanya makin sering. Misalnya kemaren kehilangan sekali sebulan, ini sekarang lupa kacamata di taro mana bisa tiga hari sekali," imbuhnya.

Selain lupa, berfikir lebih lamban hingga logika yang menurun juga bisa menjadi gejala dini pikun menurut dokter Pukovisa.

Gejala pikun harus dikenali sejak dini agar bisa segera dilakukan penanganan dan pencegahan agar tidak berkepanjangan.

Lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Bisa terjadi pada usia muda

Dikutip dari Fisher Center For Alzheimer's Research Foundation, Kepikunan yang sekarang lebih sering disebut sebagai demensia, ditandai dengan penurunan kemampuan kognitif atau penurunan mental.

Ini mungkin termasuk ketidakmampuan orang tersebut untuk berkonsentrasi, mengingat informasi, dan menilai situasi dengan tepat.

Dokter Spesialis Saraf dari RSUI Depok, Pukovisa Prawiroharjo menjelaskan, pikun bisa terjadi tak hanya pada orang tua saja, anak muda pun bisa kena.

"Usia muda juga bisa. Saya banyak pasien yang umurnya anak-anak, biasanya dibawa orang tuanya tuh karena kesulitan belajar rapotnya jelek, pas diperiksa ada gangguan di otaknya. Tapi kebanyakan usia remaja, dan usia muda," kata dia dalam webinar Bicara Sehat RSUI, Rabu (23/9/2020).

Kerap Lupa Ketika Ingin Berbicara? Ternyata Bukan Tanda Kepikunan, Simak Penjelasannya!

Yuk Ciptakan Lingkungan Positif bagi Orang dengan Demensia Alzheimer

"Misalnya pada trauma orang kecelakaan, ngebut gak pakai helm, tabrakan. Nah itu bisa, karena Napza, terus penyakit lain," tambahnya.

Ia menjelaskan, pikun pada usia muda biasanya disebabkan oleh beberapa penyakit otak seperti cedera kepala akibat kecelakaan, radang otak, stroke, tumor, atau akibat penyakit metabolik yang berat.

Selain itu, penyalahgunaan Napza juga bisa menyebabkan seseorang berusia muda sudah mengalami pikun atau demensia.

Nah, agar otak tetap sehat dan berfungsi maksimal, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan menurut Dokter Pukovisa.

Di antaranya bebas zat neurotoksik dan adiktif seperti Napza, juga alkohol, bebas resiko penyakit vaskular dan penyakit neurotoksik seperti hipertensi, kolesterol, jantung, diabetes, gangguan ginjal, atau bahkan gangguan hati.

Beberapa penyakit tersebut menurutnya dapat menyebabkan sumbatan pembuluh darah hingga bisa berdampak terhadap fungsi otak.

"Pembuluh darah itu, dia mengalirkan seperlima seluruh darah dalam tubuh kita, jadi itu seperlimanya buat otak. Maka tidak boleh tidak, jalan untuk pengantarnya harus bagus. Kalau dia ada sumbatan, bahaya itu. Kalai otak kurang makan ya kurang fungsinya, Kurang fungsinya itu ya salah satunya pikun," ungkapnya.

Kemudian, beberapa hal yang perlu diperhatikan lainnya adalah hindari pengalaman yang dapat merusak otak seperti pornografi, kejadian traumatis, atau cedera otak.

Jangan lupa pula untuk memperhatikan kecukupan nutrisi dalam tubuh. Seperti zat gizi makro dan mikro, istirahat cukup, dan rajin olahraga.

"Harus bebas dari pengalaman yang merusak otak. Misalnya kejadian traumatis, KDRT, prilaku buruk, pornografi, juga beberapa penyakit otak, seperti stroke, cedera otak, epilepsi, dan lainnya. Olahraga, disarankan 30 menit, tiga kali seminggu," imbuhnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved