Breaking News:

Gerakan 30 September

Kesaksian Mbah Nardi: Kala PKI Jarah Ratusan Hektar Tanah Wakaf Pondok Gontor di Mantingan (Part 1)

Berikut kesaksian Mbah Nardi ketika PKI menjarah ratusan hektare tanah wakaf Pondok Gontor di Mantingan. Inilah perlawanan kaum Muslim di Ngawi.

Editor: Y Gustaman
TRIBUNNEWS.COM
Ilustrasi. 

Penulis: Sunardi, Warga Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi 

TRIBUNJAKARTA.COM - Puji syukur hanya teruntuk Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita sekalian, terkhusus saat ini tidaklah saya berkesempatan untuk mengenang kembali, suatu peristiwa yang monumental, yang pernah saya alami.

Tidaklah saya mampu menuangkan kenangan itu dalam bentuk tulisan, kecuali itu semua hanya karena Allah semata.

Salawat dan salam teruntuk Nabi Muhammad SAW sebab, tidaklah saya bisa menapaki kehidupan ini dengan benar, kecuali hanya dengan mengikuti petunjuk petunjuk darinya, yang itu bersifat mutlak dan pasti. 

Sebelumnya perkenankan terlebih dahulu saya memperkenalkan diri. Nama asli saya Sunardi, waktu muda terkenal dengan nama panggilan Nardi Moyeng dan setelah tua biasa dipanggil Mbah Nardi.

Saya lahir dan dibesarkan di Desa Cepoko, Ngrambe, Kabupaten Ngawi, 73 tahun lalu, dari ibu bernama Suwarni dan ayah Sahid dari Nglencong, Kauman, Kecamatan Sine.

Waktu bekerja saya bertempat tinggal di Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi (sekarang jadi Bimbel Gemilang) dan setelah pensiun saya berdomisili di RT 001, RW 006, Tegalasri, Bejen, Karanganyar, Jawa Tengah. 

Kisah yang akan saya sampaikan ini, merupakan pengalaman pribadi. Oleh sebab itu saya mamakai bahasa aku dalam penyampaiannya dan kisah itu sendiri saya beri judul “Cerita mbah Nardi tentang peristiwa Dadung”.

Dalam menyampaikan kisah ini, saya menghindarkan diri dari penyebutan nama seseorang dengan maksud, supaya tidak terjadi ketidaknyamanan orang tersebut atau ahli warisnya, kecuali satu orang saja, yaitu saudara Brata Mustaqim.

Penyebutan nama saudara Brata Mustaqim tidaklah mungkin saya hindari, karena beliau adalah tokoh sentral, penggagas, sekilgus pelaksana segalanya. Bahkan, beliau juga sebagai pimpinan dalam perlawanan fisik, saat peristiwa Dadung itu terjadi.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved