Gerakan 30 September

Kesaksian Mbah Nardi: Kala PKI Jarah Ratusan Hektar Tanah Wakaf Pondok Gontor di Mantingan (Part 1)

Berikut kesaksian Mbah Nardi ketika PKI menjarah ratusan hektare tanah wakaf Pondok Gontor di Mantingan. Inilah perlawanan kaum Muslim di Ngawi.

Editor: Y Gustaman
TRIBUNNEWS.COM
Ilustrasi. 

Keterlibatan saya dalam peristiwa Dadung, berawal dari perkenalan saya dengan orang yang dikuasakan Pondok Gontor untuk mengurusi tanah wakaf di Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan.

Konon, luasnya mencapai ratusan hektare berupa tanah kering dan persawahan. Perkenalan saya tersebut terjadi, ketika suatu hari saya berkunjung ke rumah seorang tokoh di Ngompak Pucangan, yang juga alumni Pondok Gontor.

Ketika saya masuk ke dalam rumah tersebut ada seorang tamu yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Ternyata setelah diperkenalkan oleh empunya rumah, tamu tersebut adalah saudara Brata Mustaqim yang juga baru saja hadir.

Kedatangan saya dianggap suatu kebetulan yang menguntungkan, karena apa yang akan disampaikan oleh saudara Brata Mustaqim saat itu adalah suatu informasi rahasia, yang harus segera disebarluaskan secara diam-diam kepada masyarakat Muslim, minimal yang berdomisili di Lawu bagian utara.      

Beberapa hal yang disampaikan oleh saudara Brata Mustaqim saat itu antara lain: bahwa tanah wakaf yang berada di Dadung, Sambirejo, saat itu sepertinya telah “diambil alih” oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka bertindak bukan sebagai petani penggarap, yang membagi hasil dengan pemiliknya, tetapi dengan angkuhnya berbuat semaunya sendiri.

Di atas tanah kering mereka dirikan rumah-rumah hunian. Mereka tempati layaknya miliknya sendiri, begitu juga persawahan yang mereka garap, dengan tanpa mengindahkan hak-hak pemiliknya, seperti sawah-sawah itu layaknya miliknya sendiri pula.

Sehingga saat itu Pondok Gontor praktis kehilangan kontrol terhadap kepemilikan tanah wakaf tersebut. 

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengembalikan posisi masing-masing pihak, pada proporsi yang sebenarnya. Sehingga  menguntungkan masing-masing pihak, namun usaha tersebut sama sekali tidak membuahkan hasil.

Bahkan, mereka semakin menunjukkan kesombonganya dengan berbuat semaunya, tanpa mengindahkan niat baik dari pihak pondok, untuk dapatnya saling memberi dan menerima, sebagaimana keumuman yang sudah biasa berlaku di masyarakat saat itu.

Pondok saat itu sudah sampai pada titik jenuh, habis kesabaran, dan berniat untuk mengadakan gerakan fisik, untuk menggertak mereka, melawan kedholiman mereka.

Karena pihak pondok sudah merasa lebih dari cukup, dalam mengupayakan pendekatan secara damai, yang memerlukan tenaga, pikiran dan waktu yang panjang, tanpa membuahkan hasil sedikitpun.

Untuk itulah, utamanya para pemuda dari Cepoko dan Pucangan, diminta bantuannya sebagaimana dari desa-desa yang lain agar gerakan fisik untuk menggertak mereka tersebut bisa dilaksanakan.

Ternyata saudara Brata Mustaqim, selama itu telah bernanuver ke daerah-daerah kantong kantong kaum Muslimin, menemui tokoh-tokohnya dalam rangka kepentingan yang sama.

Hari H sudah ditentukan dan dua hari sebelum hari H para relawan, pembela tanah wakaf, diharapkan sudah mulai datang di Dadung, Sambirejo.    

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved