Breaking News:

Gerakan 30 September

''Kowe Kok Moleh, Anakku Kok Ora?'' Relawan Muslim Pembela Tanah Wakaf Gontor Meninggal (Tamat)

Waktu hampir pukul 17.00 WIB, saya pulang kembali dari Dadung, Sambirejo. Ternyata pulang dari medan perlawanan seorang diri begitu berisiko.

Editor: Y Gustaman
Dok Warta Kota
Gontor Putri 1 di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Waktu hampir pukul 17.00 WIB, saya pulang kembali dari Dadung, Sambirejo. Ternyata pulang dari medan perlawanan seorang diri, bukanlah perkara yang tak berisiko.

Untuk mengetahui cerita sebelumnya silakan baca: Kesaksian Mbah Nardi: Pecah Perang Fisik Umat Muslim dengan Kelompok PKI (Part 2)

Saya naik delman. Kebetulan di dalam delman tersebut sudah ada beberapa penumpang perempuan, sepertinya para pedagang beras.

Saya berakrab-akrab dengan mereka, supaya terlihat bahwa saya juga pedagang beras.

Sepanjang jalan antara Sambirejo dan Gendingan, banyak orang-orang bergerombol di pinggir jalan dan di antaranya membawa sabit dan parang.

Saya berpikir pasti orang-orang itu dari pihak mereka, tatapan matanya sangat menakutkan. Kelihatannya mereka dalam kondisi sangat marah.

Sungguh, hanya karena pertolongan Allah sajalah saya selamat sampai di rumah. Seandainya saja saya di-sweping di tengah jalan oleh mereka, maka wallahu a’lam barangkali habislah saya. 

Dampak dari peristiwa Dadung itu sungguh luar biasa, ketegangan antara umat Islam dengan mereka dan kelompok mereka, seketika memanas, sampai tingkat saling mencurigai dan saling memusuhi.

Di mana-mana peristiwa itu jadi bahan pembicaraan orang: di jalan, di pasar, di warung, bahkan di kantor-kantor pemerintah.

Nama saudara Brata Mustaqim seketika mencuat ke permukaan. Di kalangan kaum Muslimin beliau diidolakan sebagai layaknya seorang pahlawan, namun di kalangan mereka beliau sangat dibenci dan dicaci-maki.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved