Gerakan 30 September

''Kowe Kok Moleh, Anakku Kok Ora?'' Relawan Muslim Pembela Tanah Wakaf Gontor Meninggal (Tamat)

Waktu hampir pukul 17.00 WIB, saya pulang kembali dari Dadung, Sambirejo. Ternyata pulang dari medan perlawanan seorang diri begitu berisiko.

Editor: Y Gustaman
Dok Warta Kota
Gontor Putri 1 di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur. 

Dua hari setelah peristiwa Dadung, dikumpulkanlah pemuda-pemuda dari Tempurejo dan sekitarnya. Sehingga terbentuk satu rombongan terdiri dari hampir 100 orang dan saya ikut bergabung di dalamnya.

Rombongan itu ditugasi untuk secara damai, meminta supaya para relawan yang berada di dalam loji, dibebaskan.

Lantaran misi itu bersifat damai, maka siapapun yang ikut di dalam rombongan itu dilarang membawa senjata dalam bentuk apapun.

Supaya tidak menarik perhatian masyarakat, dari desa-desa yang akan dilalui, maka diputuskan berangkatnya setelah Magrib dan rute perjalanannya pun diupayakan lewat ladang dan persawahan dengan sedapat mungkin menghindari jalan desa.

Perjalanan itu sendiri, menurut saya, merupakan perjalanan yang penuh keanehan dan kejanggalan dan menjadikan saya terheran heran, tidak habis pikir. Karena, perjalanan itu pada akhirnya tidak pernah sampai tujuan.

Padahal rombongan dipandu oleh orang orang daerah setempat, yang notabene telah hafal dan paham medan di situ. Tetapi, entah karena apa, rombongan kami tersesat, muter-muter di kegelapan malam, kehilangan arah di tengah persawahan dan perladangan.

Kebingungan kami itu berlangsung cukup lama, sampai menjelang Subuh sekitar jam tiga dini hari, akhirnya rombongan memutuskan untuk tidak manjutkan perjalanan dan  kembali pulang ke Tempurejo.

Setelah beberapa hari kemudian, saya baru mengerti, bahwa perjalanan rombongan itu sepertinya memang diselamatkan oleh Allah azza wajala, karena seandainya rombongan itu sampai di Dadung, entah apa yang terjadi.

Dua hari pascaperistiwa, keadaan di Dadung kondisinya masih sangat tidak mendukung. Terjadi konsentrasi massa di mana-mana terutama malam.  

Seandainya rombongan kami tersebut sampai di Dadung, pasti akan terjadi adu fisik dan bahkan kami kemungkinan akan diserang dengan tiba-tiba, padahal kami tidak membawa apapun untuk membela diri.

Bisa dibayangkan betapa banyak korban yang kemungkinan akan jatuh di pihak kami.                                          

Gagal dalam misi penyelamatan pertama, tidak menyurutkan keinginan para tokoh umat Islam, untuk berupaya membebaskan para relawan yang masih berada di loji.

Tiga hari kemudian digalang kembali dukungan massa Islam, untuk kembali mengirimkan utusan ke Dadung, dalam keperluan yang sama, meminta dengan cara damai pembebasan para relawan.

Dalam penggalangan massa yang kedua itu, para tokoh umat Islam Tempurejo meminta bantuan otoritas Pondok Katerban, untuk ikut berpatisipasi, karenanya terbentuklah rombongan besar. Lebih besar dari rombongan pertama. Terdiri dari para pemuda sekitar Tempurejo dan para santri pondok Katerban.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved