Gerakan 30 September

''Kowe Kok Moleh, Anakku Kok Ora?'' Relawan Muslim Pembela Tanah Wakaf Gontor Meninggal (Tamat)

Waktu hampir pukul 17.00 WIB, saya pulang kembali dari Dadung, Sambirejo. Ternyata pulang dari medan perlawanan seorang diri begitu berisiko.

Editor: Y Gustaman
Dok Warta Kota
Gontor Putri 1 di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur. 

Padahal mereka berangkat ikut jadi relawan karena ajakan saya, karenanya ada perasaan merasa bersalah di hati saya. Beban moral saya semakin terasa mana kala saya menjumpai keluarganya yang begitu sedih dan susah, karena anaknya dalam tahanan, bahkan satu di antaranya jatuh sakit.

Wajar kalau sampai jatuh sakit, ia seorang janda tua, anak satu-satunya, anak semata wayangnya, yang selama itu membantu menopang kehidupannya, dengan cara bertani tidak kunjung pulang.

Suatu ketika orangtua yang jadi sakit-sakitan itu melontarkan pertanyaan sederhana kepada saya dalam bahasa Jawa, “kowe kok mulih, anakku kok ora mulih, sing ngajak kowe ta? (Kamu kok pulang, anak saya kok tidak pulang, yang  mengajak kamu, kan?)"

Menghadapi pertanyaan seperti itu saya tidak bisa menjawab, dengan tertunduk malu dan meneteskan air mata, saya meminta maaf kepadanya.

Batin saya berkata: Kalau ia menyalahkan saya, orangtua itu tidak salah, ia seorang buta huruf, sama sekali tidak tahu apa itu arti perjuangan, lebih lebih makna membela kebenaran, ia sama sekali tidak mengerti.

Yang ia tahu, anaknya saya ajak pergi dan tidak pulang. Itulah sebabnya rasa penyesalan saya tidak kunjung usai: mengapa saya meninggalkan mereka hanya karena ingin memenuhi amanah dari seseorang, seharusnya saya bersama mereka apapun alasannya.

Begitulah hari demi hari saya jalani dengan penuh rasa penyesalan, alhamdulillah dalam kondisi seperti itu, ada utusan dari Pondok Gontor datang memberi santunan, kepada keluarga relawan yang ditahan.

Entah berapa besarnya santunan itu, saya tidak tahu, saya hanya mengantarkan petugas tersebut, yang ia memperkenalkan diri sebagai adiknya saudara Brata Mustaqim, dan saya mengantarkan ia ke alamat penerimanya. 

Kemudian dari pada itu dalam masa penantian yang panjang, melalui rentang waktu beberapa bulan, alhamdulillah, akhirnya yang ditahan mendapatkan kebebasannya yang itu melegakan semuanya, utamanya para keluarga dan orang tua mereka.

Ironisnya, saat Pondok Gontor, 52 tahun kemudian, mengapresiasi perjuangan para relawan, dengan mengundang mereka pada acara sujud syukur dalam mengawali peringatan seperempat abad, berdirinya Pondok Gontor Putri 1, qodarulloh, kawan-kawan saya yang dari Cepoko itu semuanya sudah meninggal dunia.

Saya secara pribadi, hormat dan kagum terhadap mereka. Walaupun mereka hanya para petani berpendidikan rendah, di bidang agamapun sangat awam. Namun di satu sisi mereka mempunyai semangat juang tinggi dan itu dilakukan tanpa pamrih duniawi.

Saya bangga terhadap mereka.  

Wallohu a’lam bishowaf. Wassalamu’alaikum w. w.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved