Breaking News:

Tanpa Bantuan Langsung Tunai, Kisah Pengrajin Gerabah Bertahan di Tengah Gempuran Badai Covid-19

Sudah 8 bulan lamanya, penghasilan Dede Sarimana (52) dan suaminya Yoyo Kartana (59) sebagai perajin gerabah anjlok sampai 50 persen skibat Covid-19

(KOMPAS.com/ Aji YK Putra)
Yoyo Kartana (59) pengrajin gerabah di Palembang, Sumatera Selatan bertahan ditengah pandemi Covid-19, meskipun usahanya mengalami penurunan penjualan sebesar 50 persen. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Badai Covid-19 turut berdampak kepada usaha Dede Sarimana (52) dan suaminya Yoyo Kartana (59) sebagai pengrajin gerabah.

Selama delapan bulan beroperasi di tengah pandemi, penghasilannya malah anjlok sampai 50 persen.

Tidak banyak pembeli yang melirik gerabah karya mereka.

Dikatakan Dede, dalam satu bulan terakhir ia biasanya mendapatkan penghasilan sebesar Rp 5 juta untuk penjualan gerabah jenis celengan ayam, kendi dan wadah tembuni.

Untuk sekarang, mereka hanya mendapatkan uang Rp 2,5 juta.

Hasil tersebut belum lagi dipotong untuk pembelian kayu bakar serta tanah liat sebagai bahan baku pembuatan gerabah.

"Untuk membeli tanah liat saja satu truknya itu Rp 1 juta. Kayu bakar bisa Rp 300.000. Bisa dikurangi dari pendapatan itu, tapi Alhamdulilah masih ada yang beli," kata Dede, Kamis (1/10/2020).

Kondisi sekarang menurut Dede lebih baik dibandingkan tiga bulan belakangan.

Bahkan, pada Mei sampai Juni kemarin seluruh gerabah mereka tak ada yang memesan sehingga hanya tertumpuk di rumah.

"Mei itu awal puasa sampai Lebaran benar-benar kosong. Sudah bingung harus gimana, untungnya kami ada tabungan sedikit dan cukup untuk makan," ujar ibu dua anak tersebut.

Halaman
123
Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved