Breaking News:

Demo Tolak UU Cipta Kerja

Selain CCTV, Polda Metro Jaya Periksa Video di Medsos Usut Aktor Kerusuhan Demo UU Cipta Kerja

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan pihaknya telah mengumpulkan sejumlah barang bukti.

Penulis: Annas Furqon Hakim
Editor: Muhammad Zulfikar
Dok. Polres Metro Jakarta Utara
Para pelajar yang diamankan di Jakarta Utara karena diduga hendak ikut demo tolak UU Cipta Kerja pada Kamis (8/10/2020) kemarin. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim

TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Polda Metro Jaya tengah mendalami aktor dibalik kerusuhan saat unjuk rasa menolak pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan pihaknya telah mengumpulkan sejumlah barang bukti.

Selain rekaman CCTV, polisi juga memeriksa video-video terkait demo Omnibus Law yang beredar di media sosial.

"Kita sudah mengumpulkan barang bukti CCTV dan video-video pendek yang beredar di media sosial. Terus kemudian keterangan saksi-saksi di lapangan," kata Yusri kepada wartawan, Sabtu (10/10/2020).

"Ini masih kita kumpulkan semuanya untuk mencari aktor yang di belakang kelompok ini, karena indikasinya ke arah sana," lanjut dia.

Menurut Yusri, massa perusuh mendapat suplai logistik, batu, hingga bom molotov untuk sengaja membuat ricuh.

"Dilihat dari mana? Seperti makan, mereka makan itu ada mobil yang mengantarkan makanan ke kelompok mereka, lalu batu-batu sampai bom molotov. Ini masih kita selidiki semua," ungkap dia.

Anies Baswedan Targetkan Halte Transjakarta yang Rusak Bisa Beroperasi Senin Mendatang

Polisi Duga Ada Aktor di Balik Kerusuhan Demo Tolak UU Cipta Kerja

Total 46 Halte Rusak Pasca-Kericuhan Tolak UU Cipta Kerja di Jakarta, Kerugian Mencapai Rp 65 Miliar

Polda Metro Jaya menetapkan 87 massa perusuh saat demo menolak UU Cipta Kerja sebagai tersangka.

"Kemarin kan saya bilang 285 orang sedang didalami. Nah sekarang diperkecil lagi tinggal 87 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka," ujar Yusri.

Dari 87 tersangka tersebut, tujuh orang di antaranya telah dilakukan penahanan.

Menurut Yusri, tujuh orang itu dijerat Pasal 170 KUHP karena melakukan pengeroyokan terhadap petugas.

"Kenapa 80 nggak ditahan? Karena kan pasalnya ada ancaman hukuman, tergantung unsur pasalnya. Kalau yang tujuh ini ancamannya di atas lima tahun, jadi ditahan," jelas dia.

"Sisanya 80 ini masih kita dalami tapi sudah jadi tersangka. Ancamannya sejauh ini masih di bawah lima tahun jadi nggak ditahan," tambahnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved