Breaking News:

Demo Tolak UU Cipta Kerja

Kapolres Metro Jakpus Minta Maaf ke Warga Terkait Polisi Masuk ke Pemukiman saat Halau Perusuh

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Heru Novianto, angkat bicara ihwal polisi memasuki pemukiman warga Kwitang saat halau perusuh

Penulis: Muhammad Rizki Hidayat | Editor: Muhammad Zulfikar
TRIBUNJAKARTA.COM/MUHAMMAD RIZKI HIDAYAT
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Heru Novianto, saat meninjau protokol Covid-19, di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (11/9/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat

TRIBUNJAKARTA.COM, KEMAYORAN - Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Heru Novianto, angkat bicara ihwal polisi memasuki pemukiman warga Kwitang saat halau perusuh, beberapa hari lalu.

Dia menjelaskan, pihaknya telah berkomunikasi dengan warga Kwitang guna membahas persoalan tersebut.

Sebab, beberapa perusuh dalam unjuk rasa menolak Undang-Undang Cipta Kerja sempat melarikan diri ke Jalan Kwitang Jakarta Pusat.

Karena itu, polisi mengejar mereka dan sempat melemparkan gas air mata sehingga berdampak kepada warga sekitar.

Heru pun menyatakan telah meminta maaf atas insiden tersebut.

"Kemarin banyak perusuh masuk ke kampung sehingga kami melakukan tindakan represif sampai ke dalam," jelas Heru, Kamis (15/10/2020).

"Nah, ini dampaknya masyarakat merasa terganggu dengan adanya gas air mata, untuk itu pihak kepolisian meminta maaf," lanjutnya.

Baca juga: Jelang 3 Tahun Anies Pimpin Jakarta, PSI Soroti Transparansi Anggaran DKI

Baca juga: Tolak UU Cipta Kerja, Mahasiswa Tutup Jalan Pemuda Pulogadung

Sejumlah tokoh masyarakat dan pemuka agama pun telah berkomunikasi dengan Heru beserta jajaran.

Ke depan, kata Heru, kepolisian mengimbau jika ada demonstran yang masuk ke pemukiman warga, baiknya masuk ke dalam rumah dan tidak berkerumun.

"Jika ada demonstran yang datang dan bukan dari warga Kwitang, langsung bilang ke mereka dilarang berkerumun dan berkumpul," jelas Heru.

"Langsung diperingatkan agar meninggalkan lokasi, tokoh masyarakat bisa mengingatkan pendatang agar tidak merusak fasilitas dan berbuat kerusuhan sehingga dapat menjaga keamanan di Kwitang," lanjutnya.

Warga Kwitang, Beni (27), mengatakan pihaknya bakal menutup pintu masuk utama jika terjadi kerusuhan.

"Iya, sudah komunikasi dengan Ketua RW biar ditutup kalau ada rusuh-rusuh," kata Beni, saat dihubungi TribunJakarta.com, di tempat terpisah.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved