Breaking News:

Fethullah Gülen Sampaikan Pesan Kemanusiaan dan Kecam Aksi Kekerasan di Prancis

Ulama ternama asal Turki, Fethullah Gülen mengecam peristiwa pembunuhan guru di Prancis dan juga penikaman yang menewaskan tiga orang

freepik.com
Ilustrasi korban kekerasan 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Ulama ternama asal Turki, Fethullah Gülen mengecam peristiwa pembunuhan guru di Prancis dan juga penikaman yang menewaskan tiga orang di sebuah rumah ibadah di Nice.

Gulen menyayangkan para pelaku yang menggunakan simbol-simbol agama karena justru tindakan mereka jelas-jelas jauh dari tuntunan nabi yang damai dan penuh kasih sayang.

“Saya mendengar bahwa telah terjadi sebuah pembunuhan atas Samuel Paty secara sangat sadis di sebuah daerah di Paris baru-baru ini dan kabar ini amat mengguncang kedalaman hati saya," ujarnya, seperti dilansir dari tr724.com, dikutip Rabu (4/11).

Gulen juga terkejut dan mengaku sedih dengan peristiwa penikaman secara keji di sebuah lokasi ibadah di Nice. Penyerangan dengan pisau itu menewaskan tiga orang, dua di antaranya meninggal di dalam gereja.

"Betapa pedihnya bahwa saya merasa sangat terperangah saat mendengar bahwa di sebuah kota lain di Prancis, di sebuah tempat ibadah, pada saat ibadah dilakukan, juga terjadi penyerangan dengan pisau yang berakhir dengan pembunuhan bengis," katanya.

"Saya ingin mengungkapkan secara terbuka, bahwa kenyataan ketika para pelaku pelanggaran pada dua peristiwa ini menggunakan argumen-argumen Islami sebagai slogan-slogan agama, lebih membuat kesedihan saya semakin dalam," ujarnya lagi.

Kekerasan sampai kapan pun sama sekali  tak bisa disetujui.

Menurutnya, dapat dipahami bahwa kaum muslimin yang meyakini dan menghormati semua nabi dan rasul yang datang dan pergi sejak zaman Nabi Adam, mengharapkan adanya sikap penghormatan dari lawan bicaranya terhadap Sayyidina Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi wa sallam).

Sebuah hal khusus yang dapat dipahami jika ada rasa terganggu saat mendapati ungkapan dan tindakan tak pantas terhadap Beliau dan tentu saja selalu ada cara-cara positif untuk mengungkapkan perasaan terganggu ini pada dasar, diplomasi dan aturan-aturan hukum kemanusiaan.

"Dalam hal ini, sampai kapan pun terlibat dalam kekerasan sama sekali tak bisa disetujui," katanya.

Baca juga: MUI Serukan Boikot Produk Asal Prancis, Danone: Kami Tidak Ada Hubungannya

Baca juga: Ingin Presiden Macron Jera, MUI Tangsel Turut Serukan Boikot Produk Prancis

Halaman
12
Editor: Muhammad Zulfikar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved