Digitalisasi Warung dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

Kegiatan bisnis mengalami perubahan demi menjamin kesehatan publik dan hal ini juga mempengaruhi pola produktivitas masyarakat.

TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Suasana Warung Tenda Sate Padang Ajo Ramon di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Senin (17/2/2020). 

TRIBUNJAKARTA.COM - PT Jembatan Akar Teknologi (Ula), perusahaan rintisan yang berfokus pada pengembangan UMKM menjelaskan, kegiatan bisnis mengalami perubahan demi menjamin kesehatan publik dan hal ini juga mempengaruhi pola produktivitas masyarakat.

Sebuah revisi data dari IMF baru-baru ini memproyeksikan angka PDB riil ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi sebesar 1,5% pada tahun 2020.

Oleh karena itu, pemulihan UMKM menjadi kunci untuk pemulihan ekonomi nasional secara keseluruhan, mengingat bahwa sektor ini merupakan tulang punggung ekonomi negara yang mampu menyumbang 60% PDB nasional.

Lantas, bagaimana kita dapat mendukung dan mempercepat pemulihan para pelaku UMKM?

"Digitalisasi menawarkan berbagai solusi menjanjikan untuk UMKM," ujar Nipun Mehra, CEO dan CO-Founder Ula.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bank Mandiri yang diterbitkan pada 7 Oktober, tercatat bahwa hingga September 2020, sebesar 53% UMKM di Indonesia sudah memanfaatkan aset dan alat digital, dimana angka ini mengalami kenaikan dari angka 27% pada Mei 2020.

Warung-warung di Indonesia yang sebelumnya masih awam dengan konsep dan praktik belanja daring, saat ini mereka justru membeli inventaris mereka menggunakan platform digital.

Perubahan perilaku yang terjadi secara cepat dan merevolusi kebiasaan ini telah berkembang menjadi sebuah kebiasaan baru, dimana warung yang sudah merasakan pengalaman belanja daring terus melakukan pesanan secara teratur.

Tentunya, fenomena ini kemudian menjadi bukti ketahanan dan adaptasi masyarakat Indonesia.

Baca juga: Jendral Taiwan Sebut Negaranya Cuma Bertahan 2 Minggu Jika Perang dengan Cina, Ini Penjelasannya

Di sisi lain yang tidak jauh berseberangan, adopsi digital yang dilakukan oleh para pelaku usaha mikro juga menghasilkan terobosan lain dimana pada saat yang sama adopsi tersebut menjawab salah satu tantangan terbesar di Indonesia, Inklusi Keuangan.

FOLLOW JUGA:

"Integrasi pembayaran digital sebagai sebuah solusi baru seperti contohnya opsi “pay later” memungkinkan para pemilik warung lebih terpapar terhadap layanan keuangan yang lebih transformatif," terang Nipun. 

Dengan mengandalkan solusi digital, para pelaku bisnis/pemilik warung dapat menghemat waktu dan tenaga mereka dengan melakukan aktivitas bisnis secara daring seperti melakukan pembelian dan membandingkan harga untuk keperluan stok.

Selain itu, adopsi solusi digital juga dapat meningkatkan arus kas mereka karena para pemilik warung dapat mengelola tingkat stok barang secara efisien dan di waktu yang bersamaan, juga menjaga kesehatan mereka hanya dengan menggunakan smartphone untuk memesan barang tanpa harus pergi keluar rumah.

Baca juga: Zaskia Sungkar Cerita Alasan Nikah Demi Bebas dari Sang Ayah, Irwansyah Beberkan Konflik Tak Terduga

"Terlepas dari berbagai rintangan yang dihadapi oleh para pelaku usaha mikro, saya telah melihat adanya peningkatan signifikan dalam kinerja dan praktik bisnis di semua lini rantai pasok," ujar Nipun.

Menurut Nipun, fleksibilitas dan adaptasi UMKM Indonesia yang terjadi secara luar biasa hari ini menjadi tanda dan harapan untuk Indonesia.

"Tren ini harus berlanjut, dan saya  optimis bahwa pemulihan ekonomi Indonesia secara keseluruhan yang dicanangkan pada 2021 dapat dicapai bersama," jelas Nipun Mehra. (*)

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved