Breaking News:

Pemerintah Kota Bekasi Rancang Teknis Pembelajaran Tatap Muka

Pemerintah Kota Bekasi tengah merancang teknis pembelajaran tatap muka yang rencananya akan digelar pada Januari 2020 mendatang

TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR
Suasana simulasi belajar tatap muka di SMPN 2 Kota Bekasi, Senin, (3/8/2020). 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI TIMUR - Pemerintah Kota Bekasi tengah merancang teknis pembelajaran tatap muka yang rencananya akan digelar pada Januari 2020 mendatang.

Anggota Tim Role Model Simulasi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas Kota Bekasi Haris Budiyono mengatakan, Kota Bekasi secara umum sudah memiliki pengalaman dalam menggelar tatap muka.

Pada Agustus 2020 silam, Dinas Pendidikan sempat membut simulasi dengan melibatkan enam sekolah percontohan atau role model pembelajaran tatap muka.

"Kita sudah ada rumusan penyelenggaraan tatap muka yang terbatas dan hasilnya berupa video, skenario sesuai protokol kesehatan, paling tidak kita sudah punya modal itu," kata Haris, Minggu (22/11/2020).

Namun untuk Januari 2020 mendatang, gelaran pembelajaran tatap muka nantinya akan tetap mengikuti arahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Salah satunya kata Haris, tiak menggelar pembelajaran tatap muka dalam skala besar di tiap satuan pendidikan atau sekolah.

Baca juga: Warga Keluhkan Pungutan Rp 20 Ribu untuk Ambil Paket Covid-19, Ketua RT: Uang Buat Beli Rokok

Baca juga: Kapendam Jaya Klarifikasi Penumpang Wanita Berbaju Kotak-kotak Naik Ranpur TNI saat Tertibkan Baliho

Baca juga: Rapid Test di Dekat Rumah Rizieq Shihab Sepi Peminat, Ketua RT: Warga Masih Takut

Gambaran teknis pembelajaran tatap muka yang tengah disusun ini misalnya, tiap satuan pendidikan harus menggilir tiap rombongan belajar.

"Intinya dalam pembahasan awal itu diberlakukan awal tidak sepenuh hari, misalnya dalam seminggu hanya beberapa hari saja ditetapkan," ungkap Haris.

Dengan begitu lanjut dia, tiap rombongan belajar di satuan pendidikan tidak masuk di hari dan jam yang sama.

Sehingga, meminimalisir adanya kerumunan siswa seusai maupun selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

"Jadi secara gradual kalau istilah pak menteri, tidak semua kelas masuk, nanti bergilir, misalnya di SMP itu kan ada kelas 7, 8, dan 9," ungkapnya.

"Kelas 7 sehari hanya dua rombel, kelas 8 hanya dua rombel, kelas 9 juga demikian, nah hari berikutnya bisa digilir dengan rombongan belajar yang lainya," terangnya. 

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved