Murid Dipungut Rp 1,6 Juta untuk Seragam dan Rapor, Kadis Pendidikan hanya Tegur SMPN 18 Tangsel

Mendengar SMAN 18 Tangsel memungut biaya jutaan rupiah untuk seragam dan rapor, Kadis Pendidikan Tangsel, hanya akan menegur.

uangteman.com
Ilustrasi Uang 

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG SELATAN - Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan Tangerang  Selatan (Tangsel), Taryono, hanya akan menegur jajaran SMPN 18 yang dilaporkan memungut biaya jutaan rupiah kepada muridnya.

Padahal, Taryono mengakui bahwa dirinya sudah jauh hari membuat surat edaran larangan memungut uang dari murid terkait apapun, termasuk pembelian buku dan seragam.

Taryono juga sudah menerima lasngung laporan yang dibaluti kekesalan sejumlah orang tua murid SMPN 18 di kantornya sendiri terkait dugaan pungutan liar (pungli) itu.

"Kami akan berikan teguran kepada kepala sekolah SMPN 18 karena saya sudah mengedarkan surat larangan untuk tidak boleh ada biaya apapun di sekolah," ujarnya saat dihubungi oleh awak media, Kamis (26/11/2020).

Taryono mengatakan ia memilih untuk tidak ikut campur masalah tersebut karena ia ingin pihak sekolah dan wali murid menyelesaikan secara bermusyawarah terlebih dahulu.

"Ya saya tidak bisa ikut campur, kalau untuk seragam sekolah mungkin karena harus sama kan jadi harus beli," katanya.

Ia menyebut sudah memberikan instruksi kepada kepala sekolah untuk segera mengadakan pertemuan dengan wali murid agar masalah ini dapat segera terselesaikan.

Baca juga: Setahun Jadi Muncikari, Bagaimana Pasangan Suami Istri Ini Tawarkan Prostitusi Online Artis?

Baca juga: Dengar Kabar Rizieq Shihab Sakit, Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran: Kita Positif Thinking Saja

Laporan Orang Tua Murid

Diwartakan sebelumnya, sejumlah orang tua murid SMPN 18 Tangsel mendatangi kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel, di Jalan Maruga, Ciputat, Rabu (25/11/2020).

Mereka ingin melaporkan dugaan adanya pungli yang dibebankan kepada murid hingga jutaan rupiah.

Beni Naraha, salah satu orang tua murid SMPN 18, mengatakan, anaknya dimintai uang sebesar Rp 1,6 juta untuk biaya seragam, rapor dan kegiatan ekstrakulikuler.

"Kami dimintakan uang sebesar Rp 1,6 juta untuk seragam, rapor dan kegiatan ekstrakurikuler," ujar Beni.

Beni tak bisa menahan amarahnya, suaranya meninggi. Ia heran di sekolah negeri masih ada pungutan, dan mempertanyakan sokongan dana dari pemerintah kota.

"Di sekolah ada pungutan liar dan kami sebagai orang tua murid mempertanyakan apakah pemerintah ini tidak punya dana," ujarnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved