Sisi Lain Metropolitan

Riwayat Jagakarsa: dari Lebatnya Hutan Jati, Kebon Buah Kini Jadi Lautan Perumahan

Berdasarkan cerita turun temurun dan manakib yang dibacanya, pohon-pohon jati itu dibawa ke daerah selatan, yang kini disebut Pangkalan Jati

TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas
Suasana Jalan Raya di Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Selasa (8/12/2020) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, JAGAKARSA - Berada di ujung Selatan Jakarta, Kecamatan Jagakarsa merupakan wilayah yang kini dipenuhi lautan perumahan.

Zaman dulu, pemandangan Jagakarsa sangat jauh berbeda dengan saat ini. 

Menurut Tamin, warga setempat sekaligus penjaga makam Pangeran Jagakarsa, daerah Jagakarsa dan sekitarnya masih dipenuhi hutan Jati.

Berdasarkan cerita turun temurun dan manakib yang dibacanya, pohon-pohon jati itu dibawa ke daerah selatan, yang kini disebut Pangkalan Jati untuk diolah.

"Tadinya hutan jati kemudian dibabat, kayu-kayu gelondongan dibawa ke kampung Pangkalan Jati. Di sana diolah jadi papan, tiang soko guru, balok dan kusen," jelasnya kepada TribunJakarta.com pada Selasa (8/12/2020),

Setelah diolah, kayu-kayu itu dikirimkan kembali ke Jagakarsa untuk dibangun sebuah padepokan dan Giri Kedaton, semacam keraton.

Pangeran Jagakarsa, lanjut Tamin, mendirikan keraton di sana sekira tahun 1505 dengan tujuan melindungi serangan dari Portugis.

Tamin mengenang pada masa Presiden Soeharto, daerah Jagakarsa menjadi pusat aneka buah.

Banyak pohon-pohon dengan berbagai jenis buah tumbuh di sana.

"Ini kan (Jagakarsa) gudangnya buah-buahan. Buah apa aja di sini ada," ungkapnya.

Lebatnya pepohonan di Jagakarsa juga tersimpan dalam kenangan warga asli Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Muinah.

Menurutnya, sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, kawasan Lenteng Agung banyak ditumbuhi pohon bambu, salak dan rambutan. Belum banyak dibangun perumahan.

"Sekira tahun 70-an, dulu ada pepohonan buni, salak dan gandaria. Dulunya masih serem di sekitar rumah. masih kebon dan rumah pun masih jarang," kenangnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved