Korban Mutilasi di Saluran Irigasi

Suara Aneh Disusul Bau Menyengat Muncul dari Rumah Pelaku Mutilasi, Ibu Korban Pingsan Berkali-kali

Emas Jumiarti (45) terusik oleh suara aneh dari dalam rumah AYJ, remaja 17 tahun pelaku mutilasi Donny Saputra. Ibu korban pingsan berkali-kali.

Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Y Gustaman
TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Emas Jumiarti (45) tetangga dekat AYJ (17, pelaku mutilasi di Bekasi, saat ditemui pada Rabu (9/12/2020). Ia sempat terusik dengan suara aneh disusul aroma menusuk hidung Minggu (6/12/2020) sore atau sehari sebelum mayat Donny Saputra ditemukan termutilasi pada Senin (7/2/2020). 

"Enggak ada gelagat kaya gitu juga (penyuka sesama jenis), cakep orangnya bersih," tegas dia.

Jadi Korban Sodomi Berkali-kali

Tapi, dari keterangan polisi mengungkap jika AYJ membunuh dan memutilasi karena kerap menerima pelecehan seksual dari korban selama ini.

"Korban kesal karena dipaksa disodomi pelaku berkali-kali," ujar Kasubbag Humas Polres Metro Bekasi Kota Kompol Erna Ruswing Andari dikonfirmasi terpisah.

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menjelaskan pelaku dikategorikan masih anak-anak karena masih berusia 17 tahun.

"Mengaku membunuh karena dipaksa melakukan kontak seks berulangkali dengan disodomi, berarti ia korban kejahatan seksual," kata Reza kepada Warta Kota.

Kejahatan seksual terhadap anak adalah kejahatan luar biasa. Boleh jadi AYJ yang sudah ditetapkan statusnya sebagai pelaku adalah korban juga.

"Korban kejahatan seksual, mengacu UU Perlindungan Anak, harus mendapat perlindungan khusus," ucap Reza.

Reza menerangkan, dalam status ganda AYJ ini polisi harus mendudukkannya lebih dulu sebagai korban. 

"Jelas sudah kasus ini bukan hanya urusan polisi. Setidaknya KPPPA, LPSK, KPAI, kudu turun tangan. Termasuk memastikan terealisasinya perlindungan khusus bagi korban yang juga pemutilasi," kata Reza.

Tak Terurus setelah Ibu Wafat

Emas dan tetangga sekitar tak menyangka, karena selama ini mengenal AYJ pribadi yang sopan dan ramah. Sehari-hari pelaku mengamen sebagai manusia silver.

Polisi mengamankan AYJ pada Rabu dini hari WIB di sebuah rental Play Station 4 di bilangan Kranji, Kecamatan Bekasi Barat.

"Orangnya sopan, ramah, enggak pernah macem-macem. Paling ngamen aja. Makanya saya kaget kalau dia sampe kayak gitu," kata Emas Jumiarti.

Pergaulan AYJ di lingkungan sekitar juga cukup baik. Seperti anak seusianya, ia suka nongkrong dengan remaja di dekat tempat tinggalnya.

AYJ  tak sampai menamatkan pendidikan tingkat sekolah menengah pertama. Ia ditinggal ayahnya sejak kecil dan dibesarkan oleh ibunya.

Sekitar tiga atau empat tahun lalu ibunya meninggal dunia. AYJ pun terpaksa harus hidup sendiri tanpa kasih sayang orangtuanya.

Kakaknya sudah menikah. Enggan diajak tinggal bersama kakaknya sambil mengurus sang nenek, AYJ pun memilih menempati rumah warisan orangtua.

Sewaktu kecil, AYJ dikenal anak taat beribadah dan sering mengikuti pengajian dan kegiatan keagamaan lain di lingkungan setempat.

Ketaatannya mulai memudar sejak ibunya meninggal. Setelah putus sekolah itu, AYJ hidup di jalanan dengan mengamen.

"Dia sering ngajak temannya main ke rumah. Temannya dari mana saja, bukan orang sini. Termasuk korban itu sering main ke sini hampir setiap minggu nginep," tutur Emas.

Kematian Donny Saputra membuat sang ibu Rusmini begitu terpukul. Berkali-kali ia pingsan, tak percaya dengan kabar buruk dari aparat Polsek Majenang.

Sebagian keluarga sudah pergi ke Jakarta untuk menjemput jenazah Dony Saputra. Di rumah duka, sejumlah warga dan teman korban terus berdatangan untuk melayat.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved