Breaking News:

Cerita Pedagang Sop Buah Saat Diserang Kelompok Bersenjata Tajam, Pikirkan Gerobak Peninggalan Suami

Penyerangan kelompok bersenjata tajam di Jalan Bekasi Timur IV, Kelurahan Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara masih membekas di benak Tayu (49)

TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Tayu (49), korban penyerangan kelompok bersenjata tajam saat menjalankan usaha jahitnya di Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (14/12/2020).  

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Penyerangan kelompok bersenjata tajam di Jalan Bekasi Timur IV, Kelurahan Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara masih membekas di benak Tayu (49).

Tak hanya karena saat kejadian pada Jumat (11/12/2020) malam gerobak sop buah dan mesin jahit miliknya dirusak pelaku yang beranggotakan sekitar 20 orang.

Tayu menyaksikan langsung penyerangan yang dilakukan menggunakan ragam senjata tajam di antaranya celurit, parang, samurai, golok hingga lemparan petasan.

"Pas kejadian lagi siap-siap mau nutup jualan tiba-tiba datang kelompok ini. Dari jauh saya udah lihat mereka bawa parang-parang panjang," kata Tayu di Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (14/12/2020).

Baca juga: Korban Penyerangan Kelompok Bersenjata Tajam di Cipinang Jakarta Timur Berharap Ganti Rugi Pelaku

Tayu (49), korban penyerangan kelompok bersenjata tajam saat memberi keterangan di Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (14/12/2020).
Tayu (49), korban penyerangan kelompok bersenjata tajam saat memberi keterangan di Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (14/12/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Meski sadar nyawanya terancam bila tidak segera pergi, Tayu yang masih tercatat warga RW 07 Kelurahan Cipinang Besar Utara tak langsung kabur.

Dia menghabiskan waktu beberapa detik membuat pertimbangan apa harus menyelamatkan gerobaknya atau langsung kabur seperti warga lain.

"Akhirnya saya diteriakin warga untuk meninggalkan gerobak, katanya enggak apa gerobak rusak yang penting nyawa selamat. Habis itu baru saya kabur ke gang terus ke rumah," ujarnya.

Bukan tanpa sebab Tayu berat hati meninggalkan gerobak sop buahnya, selain karena berdagang merupakan mata pencaharian utama.

Usaha sop buah gerobak tersebut hasil rintisan dia bersama almarhum suami yang selama ini sudah berhasil menghidupi empat anaknya.

Halaman
1234
Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved