Breaking News:

Keluarga Korban Pembunuhan Ibu Hamil: Kalau Ada yang Lebih Berat dari Hukuman Mati Kami Ajukan

Keluarga Hilda Hidayah (22) tak bisa menyembunyikan emosinya saat pengungkapan kasus pembunuhan Hilda di Mapolsek Makasar

TribunJakarta/Bima Putra
Hidayah (22) semasa hidup yang disimpan Abudin dalam handphonenya, Makasar, Jakarta Timur, Kamis (17/12/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, MAKASAR - Keluarga Hilda Hidayah (22) tak bisa menyembunyikan emosinya saat pengungkapan kasus pembunuhan Hilda di Mapolsek Makasar.

Kala kedua tersangka Hendra Supriyatna alias Indra (38) dan Muhammad Qhairul Fauzi alias Unyil (20) dihadirkan pada Rabu (16/12) emosi mereka tampak memuncak.

Anggota keluarga yang hendak mengikuti ungkap kasus bersama wartawan diminta menjauh sementara dari lokasi jumpa pers guna mencegah hal tak diinginkan.

Kakak ipar Hilda, Abudin (45) mengaku marah saat diberitahu personel Polsek Makasar pada Senin (14/12/2020) bahwa sudah nyaris dua tahun Hilda tewas.

"Selama ini kita berusaha mencari keberadaannya, tanya sana-sini. Tanya ke teman-teman si Indra di terminal. Mereka bilang Hilda sehat-sehat saja," kata Abudin di Makasar, Jakarta Timur, Kamis (17/12/2020).

Sepengetahuan keluarga, Hilda dan Indra yang hubungan tak direstui sudah menikah siri pada Desember 2018 lalu tinggal bersama di Cikarang, Bekasi.

Kakak ipar Hilda Hidayah, Abudin (45) saat memberi keterangan di Mapolsek Makasar, Kamis (17/12/2020).
Kakak ipar Hilda Hidayah, Abudin (45) saat memberi keterangan di Mapolsek Makasar, Kamis (17/12/2020). (TribunJakarta/Bima Putra)

Selepas menikah siri pihak keluarga tak lagi mendapat kabar dari Hilda dan Indra, terlebih saat Indra berhenti dari pekerjaan sebagai sopir bus Mayasari.

Usai membunuh lalu membuang jasad Hilda yang sedang hamil sembilan bulan pada 3 April 2019 silam, Indra beralih profesi jadi sopir truk ekspedisi.

"Tidak ada harga lagi, saya mau pelaku dihukum mati. Bila perlu, kalau ada lebih (berat) dari hukuman mati saya ambil itu. Tidak ada harga lagi untuk hukuman mati, bila perlu keduanya dihukum mati," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Bima Putra
Editor: Erik Sinaga
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved