Pembunuhan Hilda Hidayah Sudah Direncanakan, Indra Terancam Dihukum Mati

Polisi mendapati pembunuhan yang dilakukan Indra kepada Hilda Hidayah terencana, sebelumnya polisi menjerat pasal 338 KUHP hukuman 15 tahun penjara

Penulis: Bima Putra | Editor: Wahyu Septiana
TribunJakarta.com/Bima Putra
Mayat perempuan misterius alias Mrs X ditemukan terkubur ala kadarnya di taman kota Tol Jagorawi, Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Foto diambil Minggu (7/4/2019). Belakangan terungkap Mrs X adalah Hilda Hidayah (22), istri muda Hendra Supriyatna alias Indra (38) yang saat dibunuh sedang hamil tua. Terbaru, Polres Makasar dan Tim Rajawali Polres Metro Jakarta Timur menangkap Indra dan temannya Unyil, Rabu (16/12/2020). (Inset) Indra (kanan) didampingi Unyil (kiri) di Polsek Makasar, Kamis (17/12/2020). Polisi mendapati pembunuhan yang dilakukan Indra kepada Hilda Hidayah terencana, sebelumnya polisi menjerat pasal 338 KUHP hukuman 15 tahun penjara 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, MAKASAR - Harapan keluarga besar Hilda Hidayah (22) agar Hendra Supriyatna alias Indra (38) dihukum mati karena sudah membunuh Hilda tampaknya bakal terwujud.

Meski di awal pemeriksaan Indra yang merupakan suami siri Hilda dijerat pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Kanit Reskrim Polsek Makasar Iptu Mochamad Zen mengatakan pihaknya mendapati pembunuhan yang dilakukan Indra pada 3 April 2019 silam terencana.

"Akan dijerat pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana juga, tapi untuk penetapan pasal kita harus gelar perkara dulu," kata Zen saat dikonfirmasi di Jakarta Timur, Minggu (20/12/2020).

Bila mengacu hukuman dalam pasal 340 KUHP, pasal ini sesuai dengan harapan keluarga besar Hilda karena mengatur ancaman hukuman mati.

Atau pidana penjara seumur hidup, atau selama rentan waktu tertentu, paling lama dua puluh tahu penjata bagi pelaku pembunuhan berencana.

"Pelaku mengaku saat awal bertengkar dengan korban di bus dia memindahkan balok kayu pintu pengganjal bus dari depan ke belakang bus lokasi mereka bertengkar," ujarnya.

Baca juga: Ada Kabar BLT Subsidi Gaji Karyawan Diperpanjang hingga 2021, Ini Penjelasan Menaker Ida Fauziyah

Zen menuturkan Indra sudah lama kesal dengan Hilda yang saat kejadian hamil sembilan bulan anaknya karena kerap meminta dinikahi secara hukum.

Sejak hamil lima bulan Hilda meminta Indra yang saat itu masih bekerja sebagai sopir bus Mayasari rute Kampung Rambutan-Cikarang menikahinya.

Tapi selalu ditolak dengan alasan Indra sudah lebih dulu memiliki istri dan anak, penolakan ini membuat Indra dan Hilda kerap bertengkar.

"Menggunakan balok yang dipindahkan sebelumnya itu pelaku memukul kepala korban sebanyak tiga kali. Dia ini juga sempat mencekik korban dalam bus," tuturnya.

Hendra Supriyatna alias Indra (kiri) dan Muhammad Qhairul Fauzi alias Unyil (kanan) saat dihadirkan di Mapolsek Makasar, Jakarta Timur, Rabu (16/12/2020).
Hendra Supriyatna alias Indra (kiri) dan Muhammad Qhairul Fauzi alias Unyil (kanan) saat dihadirkan di Mapolsek Makasar, Jakarta Timur, Rabu (16/12/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA)

Jasad Hilda lalu dibuang di taman kota Tol Jagorawi, Kecamatan Makasar dengan bantuan kernet bus, Muhammad Qhairul Fauzi alias Unyil (20).

Baru pada 7 April 2019 jasad Hilda ditemukan dalam keadaan setengah terkubur dan sudah membusuk sehingga tak bisa dikenali secara wajah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved