Breaking News:

Kisah Pemulung Makan Silet 25 Tahun, Masih Kuat Keliling Desa demi Mengais Rezeki di Usia Senja

Nenti gemar makan benda tajam seperti silet, kaca lampu, beling dan benda tajam lainnya selama 25 tahun.

TRIBUNJABAR/HANDHIKA RAHMAN
Nenti (50), pemulung asal Cirebon yang tinggal di Desa Dadap, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu saat memakan silet, Minggu (20/12/2020). 

Berdasarkan laporan Kompas.com, pica dikarakterisasi sebagai nafsu makan untuk substansi tidak bergizi dalam jumlah besar, seperti es batu, tanah liat, kotoran, atau pasir.

Seseorang dinyatakan menderita pica jika melakukan aktivitas tersebut lebih dari satu bulan, serta bukan dari bagian dari tradisi atau kebudayaan yang ada di lingkungannya.

Makan seharusnya adalah aktivitas yang bertujuan memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Namun ketika sesuatu yang dimakan tidak bernutrisi, tentu pencukupan nutrisi tubuh akan bermasalah.

Meskipun bukan berarti orang dengan pica hanya makan benda-benda bukan makanan. Sebaliknya, orang dengan pica biasanya juga makan makanan bernutrisi lainnya.

Selain itu, mengonsumsi benda-benda bukan makanan yang umumnya keras juga menimbulkan sejumlah risiko. Misalnya makan es batu diketahui berisiko tinggi untuk gigi pecah, terkikisnya enamel gigi, dan tegangnya sendi rahang.

Efek negatif lainnya juga ada pada sistem pencernaan yaitu melambatnya hingga berhentinya gerakan peristaltik. Keadaan itu menyebabkan berat badan naik dengan cepat dan sulit bahkan tidak mungkin untuk menurunkan berat badan.

Tak hanya itu, pica juga dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lebih besar misalnya keracunan.

Khususnya pada anak-anak, kondisi tersebut akan menghambat perkembangan fisik dan mental mereka. Pica juga dapat menyebabkan seseorang menjalani operasi darurat karena kerusakan usus dan kekurangan gizi.

Pica dapat dipicu oleh banyak faktor seperti lingkungan, keinginan untuk memperoleh rasa, dan mekanisme neurologis seperti kekurangan zat besi atau ketidakseimbangan kimia tubuh.

Pica dikaitkan dengan gangguan mental, dan biasanya orang dengan pica juga mengalami komordibitas psikotik atau timbulnya gejala penyakit lain secara bersamaan.

Halaman
1234
Penulis: Kurniawati Hasjanah
Editor: Suharno
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved