Breaking News:

Pembuatan Paspor di Tangerang Turun Hampir 60 Persen Selama Pandemi Covid-19

Kantor Imigrasi Kelas 1 Non TPI Tangerang mendata adanya penurunan jumlah permohonan pembuatan paspor selama pandemi Covid-19 tahun 2020.

TribunJakarta.com/Ega Alfreda
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Tangerang, Felucia Sengky usai membacakan prestasi akhir tahun di kantornya, Selasa (29/12/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG - Kantor Imigrasi Kelas 1 Non TPI Tangerang mendata adanya penurunan jumlah permohonan pembuatan paspor selama pandemi Covid-19 tahun 2020.

Jumlah penurunannya pun cukup signifikan.

Tercatat, pada tahun 2020 ada sebanyak 25.645 permohonan paspor, baik itu paspor biasa dan eletronik.

Sementara, data pada tahun 2019 permohonan paspor mencapai 64.007.

"Tahun ini kita memang mengalami penurunan pembuatan paspor yang cukup signifikan, yakni sebesar 59,94 persen, karena tahun ini pun seluruh dunia tengah dihadapi dengan adanya pandemi Covid-19," ungkap Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Tangerang, Felucia Sengky Ratna, Selasa (29/12/2020).

Penurunan itupun berpengaruh pada pencapaian kerjanya yang mana dari target yang ditetapkan.

Yakni hanya 33 persen pencapaian kerja perihal permohonan pembuatan paspor.

"Target yang kita dapat penuhi hanya 33,01 persen dari yang telah ditetapkan, dan ini bukan sesuatu yang aneh tapi karena pergi ke luar negeri juga terbatas saat pandemi Covid-19 ini," kata Sengky.

Sementara, permohonan paspor ditahun 2020 pihaknya pun merici dari 25.645 sebanyak 21.468 pemohon paspor biasa dan 4.177 pemohon paspor elektronik.

Penurunan pelanggaran keimigrasian oleh Warga Negara Asing (WNA) di Tangerang juga berkurang drastis pada tahun 2020.

Pandemi Covid-19 yang melanda sejak awal tahun 2020 pun digadang-gadang jadi penyebab utamanya.

Berdasarkan data yang didapatkan dari Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Tangerang, penurunan pelanggaran keimigrasian dan kriminal di Tangerang turun sampai 40 persen.

"Untuk pelanggaran keimigrasian oleh WNA di tahun ini sangat menurun ya, sekitar ada 40 persen," tutur Sengky.

Baca juga: Wagub DKI Minta Bantuan Warga untuk Laporkan Kafe yang Beroperasi Melebihi Ketentuan Waktu

Baca juga: Petugas Kebersihan di Kramat Jati jadi Korban Pencurian, Uang dan Ponsel Raib Digondol Maling

Baca juga: Polisi Beberkan Peran Korlap Tawuran Maut di Setiabudi, Kumpulkan Peserta dan Sediakan Senjata Tajam

Ia menjelaskan ada 110 WNA yang terdata melakukan pelanggaran administrasi kemigrasian (TAK).

Kemudian ada 101 WNA dengan kasus deportasi dari Indonesia.

"Pelanggaran terbanyak overstay 68 pelanggaran dan penyalahgunaan izin tinggal 17 pelanggaran" sambung dia.

Warga negara Nigeria pun masih mendominasi dalam pelanggaran keimigrasian dengan 69 orang disusul WNA China dengan 21 orang dan 4 orang dari Malaysia.

Menurut Sengky, penurunan terjadi lantaran kesehatan menjadi prioritas pertama keimigrasian dalam melakukan penindakan.

Jangan sampai, sidak dan pengawasan tetap dilaksanakan seperti tahun lalu tapi anggota Imigrasi Tangerang menjadi klaster Covid-19.

"Pengawasan ini tidak pernah jadi kendor, karena kami terima laporan masyarakat dan kami kembangkan tidak berhenti. Program pengawasan tiap minggu tetap ada target yang kita datangi, tentu saja sebelunnya setiap hari ada tiga sampai empat, ini kita kurangi jadi dua target," ungkap Sengky.

Penulis: Ega Alfreda
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved