Breaking News:

Kata Ahli Bahasa Soal Penghasutan di Kasus Rizieq Shihab: Kalau Tokoh yang Bicara, Massa Akan Datang

Polda Metro Jaya menghadirkan Ahli Bahasa dari Universitas Nasional, Wahyu Wibowo. dalam filsafat bahasa, penghasut gunakan kata yang dapat meyakinkan

Penulis: Annas Furqon Hakim | Editor: Wahyu Septiana
TribunJakarta.com/Annas Furqon Hakim
Suasana sidang praperadilan atas penetapan tersangka Muhammad Rizieq Shihab di Pengadilan Negeri, Jakarta Selatan, Jumat (8/1/2021). Polda Metro Jaya menghadirkan Ahli Bahasa dari Universitas Nasional, Wahyu Wibowo. dalam filsafat bahasa, penghasut gunakan kata yang dapat meyakinkan 

Sebelumnya, Tim pengacara Muhammad Rizieq Shihab mempertanyakan alasan Polda Metro Jaya menjerat Muhammad Rizieq Shihab dengan Pasal 160 KUHP tentang penghasutan.

Pertanyaan itu ditujukan kepada ahli hukum pidana Universitas Indonesia Eva Achjani Zulfa dalam sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (8/1/2021).

Baca juga: 5 Pemulung di Jakarta Dipindahkan ke Grand Kamala Lagoon, Risma: Mereka Dapat Pekerjaan

Tim pengacara menilai Pasal 160 KUHP bisa dikenakan kepada Rizieq Shihab jika ada orang yang dipidana karena telah dihasut.

Menanggapi hal itu, Eva Zulfa menjawabnya dengan lugas. Ia lebih dulu menjelaskan tentang larangan berkerumun di masa pandemi Covid-19.

"Kembali lagi kesatuannya tadi, ada larangan berkerumun. Tidak ada masalah dalam konteks siapa yang mengambil inisiatif, bahwa perbuatan sama-sama dilakukan mereka punya kesadaran itu melanggar suatu ketentuan, kita ambil resiko maka terjadilah tindak pidana," kata Eva di ruang sidang utama.

Menurut Eva, penghasutan terdiri dari dua bagian, yaitu orang yang menggerakkan dan digerakkan.

Selain itu, lanjut Eva, orang yang menggerakkan tersebut tidak harus berada di lokasi.

Baca juga: Pengacara Rizieq Shihab Pertanyakan Penghasutan, Ahli Pidana UI Beri Jawaban Lugas, Ungkap Hal Ini

"Seorang penghasut dia berdiri sendiri. Seorang pelaku yang lalu dia berkerumun menjadi pelaku yang berdiri sendiri pula," ujar dia.

"Orang tidak mungkin berkerumun tanpa ada undangan, undangan ini menjadi faktor penentu terjadinya kerumunan itu," tambahnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved