Breaking News:

Pesawat Sriwijaya Air Jatuh

RS Polri Terima 155 Kantong Jenazah, Tim DVI Minta Keluarga Korban Sriwijaya Air SJ-182

Berdasarkan data per Jumat (15/1/2021) pukul 09.00 WIB, tim DVI Polri telah menerima 155 kantong jenazah dan saat ini masih diperiksa.

Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Erik Sinaga
ISTIMEWA/Dokumentasi Dinas Penerangan TNI AL
Penampakan Pesawat CN-235 MPA milik TNI AL yang digunakan untuk mendeteksi lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dari udara. Di dekatnya terlihat KRI Semarang 594 di laut Kepulauan Seribu pada Kamis (14/1/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Polri telah terima 155 kantong jenazah.

Hal ini diungkapkan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono.

Berdasarkan data per Jumat (15/1/2021) pukul 09.00 WIB, tim DVI Polri telah menerima 155 kantong jenazah dan saat ini masih diperiksa.

"Pada kesempatan pagi ini kami update kegiatan tim DVI sampai pukul 09.00 WIB, kami telah dapatkan kantong jenazah sebanyak 155 kantong jenazah dan masih proses untuk dapatkan data-data," katanya di RS Polri.

Sementara untuk jumlah korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak yang berhasil teridentifikasi berjumlah 12 orang.

Yakni, Okky Bisma, Fadly Satrianto, Khasanah, Asy Habul Yamin, Indah Halimah Putri, Agus Minarni, Ricko, Ihsan Adhlan Hakim, Supianto, Pipit Piyono, Mia Tresetyani, dan Yohanes Suherdi.

Di mana tiga jenazah diantaranya, yakni Okky Bisma, Fadly dan Asy telah diserahkan kepada pihak keluarga.

Baca juga: Efektivitas Vaksin Sinovac 65 Persen, Anies: Persentase Terpapar Covid-19 Masih 35 Persen

Baca juga: Tak Memenuhi Syarat, Ketua DPRD DKI Tak Jadi Divaksin Covid-19

Baca juga: Pemerintah Kota Tangerang Siap-siap Terima Vaksin Covid-19, Semua Rumah Sakit Dikerahkan

Kabid DVI Pusdokkes Polri Kombes Pol Ahmad Fauzi mengatakan pihaknya terus melakukan proses identifikasi, baik antemortem maupun posmortem.

Namun ia meminta pihak keluarga untuk bersabar sembari menunggu proses identifikasi yang mereka lakukan.

"Primer sidik jari, gigi dan DNA. Sidik jari dan gigi proses relatif cepat karena tidak ribet dibanding DNA, tapi semua sangat-sangat akurat. Apabila jenazah tidak utuh, maka kita butuh DNA. Jadi butuh waktu lama karena ada tahap-tahapannya. Maka saya harap keluarga bersabar karena proses DVI lebih baik lambat, asal tepat dibanding kita terburu-buru tapi salah identifikasi," ungkapnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved