YSTC Distribusikan Bantuan untuk Anak Terdampak Bencana Gempa Sulbar

Tenda-tenda darurat, yang dibuat dengan terpal kecil, masing-masing dihuni sampai 10 orang berdesak-desakan dan beralaskan kardus bekas.

Editor: Kurniawati Hasjanah
Dok. Save The Children
Save The Children Distribusikan Bantuan untuk anak terdampak bencana gempa Sulbar 

TRIBUNJAKARTA.COM - Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC) atau Save The Children mendistribusikan bantuan untuk kaum rentan, anak, penyintas bencana gempa di Majene dan Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, untuk memenuhi kebutuhan anak.

"Sejak hari pertama setelah kejadian bencana, kami bersama Yayasan INANTA di Sulawesi telah melakukan Kaji Cepat pendataan untuk mengetahui kebutuhan utama anak – anak dan keluarga termasuk kebutuhan layanan dukungan psikososial dan pendidikan dalam situasi darurat," ujar Dino Satria, Chief of Humanitarian & Resilience Department, Save the Children Indonesia dalam siaran persnya pada Rabu (20/1).

Baca juga: Asisten Cerita Syekh Ali Jaber Sempat Datangi Mimpinya Sebelum Wafat, Begini Reaksi Istri Pendakwah

Bersama dengan Yayasan INANTA, Save the Children Indonesia akan mendistribusikan 150 paket perlengkapan hunian, 5000 paket kebersihan, dan 1000 box air.

Selain itu, Save the Children Indonesia memberikan dukungan teknis untuk menyiapkan desk relawan BNPB agar memudahkan pengumpulan data informasi terutama data kebutuhan anak – anak dan keluarga.

Salah satu yang mendapatkan bantuan yakni Arsyad (37) dan dua anaknya.

Baca juga: Ramalan Zodiak Besok, Kamis 21 Januari 2021: Gemini Jadi Perhatian, Cancer Sibuk

Arsyad (37) tak pernah membayangkan dia dan keluarganya akan menjadi penyintas bencana gempa  untuk kedua kalinya.

Setelah mengalami gempa Palu dan Donggala tahun 2018, Arsyad dan keluarga memutuskan pindah ke Mamuju, Sulawesi Barat, untuk memulai kembali lembaran baru.

Namun Arsyad dan keluarga menjadi korban gempa dengan magnitudo 6,2 mengguncang Sulawesi Barat pada Jumat dini hari (15/1/2021).

Dengan menggunakan motor, Arsyad membonceng dua anaknya yang berusia 7 dan 16 tahun menyelamatkan diri ke arah perbukitan Kabupaten Mamuju.

"Saya sedih melihat anak saya sekarang. Setiap kali dia sedang bermain, tiba-tiba kaget dan berlari ketakutan karena tanah goyang. Dia masih ingat dengan gempa tempo dulu (2018) dan ini sudah terjadi lagi di sini," papar Arsyad.

Saat ini Arsyad dan keluarga sudah bersama dengan ratusan pengungsi di desa Pasa'Bu, Kecamatan Tapalang, Mamuju. Mereka berlindung di tenda pengungsian dan rumah-rumah penduduk.

Sebagian pengungsi adalah lansia, anak-anak, serta ibu hamil.

Tenda-tenda darurat, yang dibuat dengan terpal kecil, masing-masing dihuni sampai 10 orang berdesak-desakan dan beralaskan kardus bekas atau tanah saja karena belum ada tikar dan selimut. (*)

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved