Kelakuan Turis Asing Berkantong Tipis Menginap di Hostel Jalan Jaksa: Berendam di Bak Mandi

Para turis tersebut langsung berendam di bak mandi. Mereka mengira itu adalah bathtub

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas
Foto sejumlah turis asal Eropa yang sempat menginap di Hostel Wisma Delima di Jalan Jaksa, Menteng, Jakarta Pusat kala itu pada Selasa (26/1/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, MENTENG - Ada saja kelakuan turis-turis bule kala menginap di Hostel Wisma Delima yang beralamat di Jalan Jaksa, Menteng, Jakarta Pusat.

Para turis tersebut langsung berendam di bak mandi. Mereka mengira itu adalah bathtub layaknya di negara asal mereka.

Itu adalah sepenggal kisah lucu masa lalu yang dikenang Boy Lawalata (66). Boy adalah penerus Wisma Delima, sebuah hostel yang sangat hits di zamannya.

Wisma tersebut dirintis ayahnya, Nathanael Lawalata dan menjadi tempat menginap turis asal Eropa menginap.

Kala itu, penginapan di Jalan Jaksa, kawasan Menteng, Jakarta Pusat tersebut ramai disambangi pelancong berkantong tipis.

Boy bercerita bahwa dulu sempat ada turis asing yang menggunakan bak mandi tidak selazimnya seperti digunakan orang Indonesia.

Turis itu mengira bak berisi air yang tersedia di dalam kamar mandi digunakan sebagai tempat berendam. Sebab, bak mandi itu menyerupai bathtub.

"Dulu pernah ada seorang turis yang datang ke sini. Dia pakai bak mandi malah untuk berendam. Turis itu menyangka itu adalah bathtub padahal bukan. Saya tegur waktu itu," ujarnya seraya tertawa saat berbincang dengan TribunJakarta.com di ruang tamu Wisma Delima pada Selasa (26/1/2021).

Wisma Delima bagi Boy tak hanya sebagai rumah dan tempat penginapan melainkan juga tempatnya berkomunikasi dengan turis asing.

Ia kerap berkomunikasi dengan turis asing yang sempat tinggal di sana. Karena telah terbiasa, Boy bisa membedakan asal negara turis asing tersebut dari penampilannya.

"Saya bahkan bisa melihat bule ini orang Eropa berasal dari negara mana hanya dari melihatnya saja," tambahnya.

Ini Sepenggal Riwayat Wisma Delima

Wisma Delima dulu menjadi tempat destinasi favorit turis mancanegara menginap di Jalan Jaksa, Menteng, Jakarta Pusat. Penginapan ini diyakini merupakan hostel tertua di ibu kota.

Hostel Wisma Delima pun sempat menggapai masa keemasannya di era 1970 hingga 1990-an. 

Kini, pendar bisnis penginapan ber-budget irit ini meredup di tengah serbuan hotel berbasis layanan digital.

Penerus hostel Wisma Delima, Boy Lawalata (66), bercerita bahwa hostel ini sudah berdiri sejak tahun 1969. 

Ayahnya, Nathanael Lawalata ialah pendiri penginapan bagi para pelancong berkantong tipis ini.

Pada tahun 1972, Nathanael, yang kala itu bekerja di sebuah biro perjalanan bernama Travel Bhayangkara, ditawarkan bergabung ke Federation Youth Hostel International.

Rumah sekaligus tempat penginapannya itu akan diubah menjadi hostel bagi para turis backpacker. 

Mendiang ayahnya menerima tawaran itu. Terkait tarif per malam, Wisma Delima mengikuti ketentuan federasi tersebut.

"Dulu kita ditetapkan oleh Youth Hostel International dengan tarif 1 dollar per malam. Jadi waktu itu sekitar Rp 200 rupiah," ungkapnya kepada TribunJakarta.com di ruang tamu hostel pada Selasa (26/1/2021).

Nama Delima sendiri diambil dari jumlah anggota keluarga Nathanael yang terdiri dari dirinya sendiri, istri dan tiga orang anaknya. 

Selain itu, kebetulan nomor rumah pria asal Pulau Saparua, Maluku tersebut bernomor lima.

Ketika pertama kali berdiri, cerita Boy, Wisma Delima memiliki dua kamar saja dengan tipe dormitory. Tiap kamar itu berisi tiga ranjang susun.

"Ada dua kamar. Jadi satu kamar yang besar terdapat tiga ranjang susun. Bisa diisi 6 orang. Cara mensiasatinya begitu, namanya juga hostel budget. Dibuat agar mereka bisa menjangkau harganya," lanjutnya.

Lambat laun, seiring dengan tingginya antusias turis yang datang, Wisma Delima memiliki total 12 kamar tidur dan 2 kamar tipe dormitory.

Naik becak antarkan turis

Dibukanya Bandar Udara Internasional Kemayoran kala itu menjadi salah satu faktor Wisma Delima ramai disambangi banyak pelancong. Kebanyakan turis berasal dari benua Eropa dan benua Australia.

Biasanya, para pelancong hanya singgah barang sehari atau dua hari di hostel ini sebelum kembali melanjutkan perjalanan. 

"Mereka dulu yang menginap umumnya di usia muda. Mereka masih mencari jati diri lah berpetualang," ujarnya.

Boy mengenang, kala itu ia bersama kakak perempuannya kerap diajak oleh ayahnya menawarkan jasa penginapan langsung di bandara tersebut.

Mereka menaiki becak menuju bandara demi menjemput bola pelanggan baru.

"Papa jemput bola langsung ke bandara. Saya sama kakak dan menantunya ikut menjemput ke sana," ceritanya.

Karena fasih berbahasa Inggris, Nathanael dengan mudah mengajak turis asing untuk menginap di hostel Wisma Delima.

Nathanael mengantarkan turis asing itu dengan menumpangi becak dari Kemayoran menuju Jalan Jaksa.

"Jadi bareng-bareng rombongan naik becak, ada dua atau tiga becak. Marketingnya dulu seperti itu," kenangnya.

Membeludak 

Yanu (kiri) dan Boy Lawalata (kanan) berfoto di depan Wisma Delima pada Selasa (26/1/2021).
Yanu (kiri) dan Boy Lawalata (kanan) berfoto di depan Wisma Delima pada Selasa (26/1/2021). (TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas)

Sekira medio 1970-an, Wisma Delima menapaki puncak keemasannya. Pada rentang tahun itu, Nathanael sampai harus mengontrak tiga rumah untuk dijadikan penginapan lantaran Wisma Delima tak lagi bisa menampung turis.

Menurut Boy, ayahnya sempat mengontrak rumah di Jalan Jaksa dan di Kawasan Kebon Sirih.

Bahkan, saking banyaknya yang menginap, ada turis yang tidur menggunakan sleeping bag di ruang tamu.

"Tahun-tahun itu kita sudah kewalahan. Sampai kita mengontrak karena bule yang penting aman. Bahkan, ada yang sampai tidur di ruang tamu menggunakan sleeping bag karena enggak tertampung," kenangnya.

Pengelola hostel ini, Yanu yang sudah bekerja sejak masa ayah Boy, menambahkan ramainya Wisma Delima kala itu tak terlepas dari lokasinya yang strategis.

Sebab, lokasi Wisma ini berdekatan dengan Stasiun Gambir, Terminal Bus yang kala itu masih di Lapangan Banteng dan Bandar Udara Kemayoran.

Ada juga kantor pos yang saat itu sering disambangi turis asing untuk berkomunikasi.

"Lokasinya juga mendukung buat mereka," tambahnya.

Sarapan roti panggang dan scrambeld egg

Keluarga Boy juga menyuguhkan sarapan bagi turis asing yang menginap di Wisma Delima

Menu yang biasa dimasak di kala pagi hari adalah roti panggang dan telur.

"Sarapannya standart barat. Jadi kita kasih empat toast dan telur. Bisa dibuat mata sapi ataupun scrambled egg. kalau favorit di sini, bubur havermout pakai buah pisang yang dipotong-potong," tambahnya.

Riwayatnya Kini

Foto sejumlah turis asal Eropa yang sempat menginap di Hostel Wisma Delima di Jalan Jaksa, Menteng, Jakarta Pusat kala itu pada Selasa (26/1/2021).
Foto sejumlah turis asal Eropa yang sempat menginap di Hostel Wisma Delima di Jalan Jaksa, Menteng, Jakarta Pusat kala itu pada Selasa (26/1/2021). (TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas)

Kini, Wisma Delima berada di ujung senja kala.

Boy mengakui banyaknya bisnis penginapan dengan berbagai model yang menjamur di ibu kota memberikan dampak kepada Wisma Delima

Belum lagi seiring berkembangnya era digital, banyak penginapan yang sudah menggunakan aplikasi penginapan.

Hanya menggunakan telunjuknya, para turis sudah bisa memesan hotel. 

Selain itu, badai pandemi Covid-19 turut meluluhlantakkan bisnis pariwisata termasuk penginapannya itu.

Tenaga Medis di Perbatasan Kabupaten Tangerang Gagal Disuntik Vaksin Covid-19, Ini Alasannya

Tinjau Kesiapan Lahan Pemakaman Jenazah Covid-19, Wagub DKI Riza Patria Kunjungi TPU Rorotan

Cerita Hostel Ber-budget Irit Pertama di Jakarta: Sempat Jadi Primadona Pelancong Eropa

"Kondisinya mulai redup ya, bisa dilihat sendiri bule di sini juga udah enggak ada. Memang ini bisa dilihat dari kemajuan teknologi. Semua orang juga berlomba bikin hostel dengan fasilitas yang 'Wah'. Tinggal klik aja, bule udah tahu mau tinggal di mana. Kalau dulu kan enggak," jelasnya.

Namun, ia akan terus mengembangkan bisnis penginapan yang dirintis mendiang ayahnya.

"Kita mau paling enggak bangun empat lantai dengan fasilitas yang zaman sekarang lah," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved